GNSS tepat guna

Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa Global Navigation Satellite System (GNSS) telah menjadi suatu alat pendukung dalam berbagai kegiatan praktis maupun ilmiah. Dalam kebutuhan praktis misalnya, GNSS jamak digunakan untuk kebutuhan navigasi dan pemetaan. Sedangkan dalam kebutuhan ilmiah, GNSS dipergunakan untuk berbagai keperluan pengamatan, seperti penurunan permukaan tanah dan deformasi.

Hingga saat ini, perangkat receiver GNSS yang digunakan untuk kebutuhan ilmiah umumnya memiliki harga yang relatif tinggi, mulai dari beberapa ratus juta hingga satu miliar rupiah untuk satu unit perangkat receiver GNSS, tergantung fitur dan nama dagang receiver tersebut. Apabila receiver GNSS tersebut digunakan untuk pengamatan ilmiah seperti pengamatan longsoran, pengamatan GNSS menjadi tidak efisien dalam sudut pandang biaya. Hal tersebut terjadi karena tingginya potensi kerusakan receiver GNSS dan dibutuhkan banyak perangkat receiver GNSS untuk mendapatkan interpretasi lebih baik.

Dengan demikian, dibutuhkan sebuah terobosan perangkat receiver GNSS yang dapat digunakan untuk kebutuhan-kebutuhan tersebut. Pengembangan Receiver GNSS tepat guna diprakasai oleh Teguh Purnama Sidiq, S.T., M.T., salah satu anggota Kelompok Keahlian Geodesi ITB. Dengan penelitian tersebut, tim peneliti telah dapat mengembangakan teknologi GNSS tepat guna dengan kode LANGIT. Berdasarkan hasil penelitian awal dengan jarak baseline kurang dari 10 km, didapat hasil repeatability kurang dari 1 cm untuk solusi harian pada data pengamatan selama beberapa minggu. Hingga saat ini, LANGIT masih beroperasi secara kontinyu di beberapa titik pengamatan di kota Bandung untuk kebutuhan pengamatan deformasi.

Leave a Comment