Penurunan muka tanah

Beberapa waktu yang lalu, pidato kenegaraan dari Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, telah menarik perhatian banyak kalangan masyarakat. Pasalnya, Joe Biden menyinggung potensi Jakarta tenggelam akibat dampak dari perubahan iklim yang terjadi saat ini. Seiring dengan naiknya permukaan laut akibat perubahan iklim yang terjadi, akan memperparah kondisi pesisir Jakarta yang sejatinya telah berada di bawah permukaan laut untuk sebagian wilayahnya. Joe Biden juga menyatakan bahwa dalam 10 tahun kedepan, kemungkinan Jakarta tenggelam secara permanen dapat menjadi kenyataan. Hal ini diperparah akan adanya fenomena penurunan muka tanah yang masih terjadi di wilayah Jakarta.

Dr. Heri Andreas, anggota Kelompok Keilmuan Geodesi FITB-ITB dan juga Ketua Lembaga Riset Kebencanaan IA-ITB, menyatakan bahwa potensi Jakarta tenggelam memang telah menjadi isu dalam beberapa tahun terakhir. Hal tersebut didukung dari pengukuran dan pemantauan kondisi elevasi permukaan tanah dengan menggunakan teknologi geodetik seperti Global Navigation Satellite System (GNSS), Interferometric Synthetic Aperture RADAR (InSAR) dan data LiDAR (Light Detection and Ranging). Berdasarkan data tersebut, pada beberapa wilayah di Jakarta mengalami penurunan muka tanah hingga 10 cm setiap tahunnya. Ditambah dengan letak geografis dari Jakarta yang berada di wilayah pesisir dan berada di bawah permukaan laut untuk sebagian wilayahnya, wilayah Jakarta memang rentan untuk tenggelam.

Kendati demikian, terdapat beberapa fakta menarik terkait penurunan muka tanah berdasarkan pengamatan geodetik terkini di wilayah Jakarta. Saat ini, terjadi perlambatan laju dari penurunan muka tanah di Jakarta. Tentu saja hal tersebut merupakan kabar baik bagi upaya pencegahan Jakarta untuk tenggelam yang telah dilakukan, seperti pembangunan tanggul dan penataan pesisir.

Dr. Heri Andreas juga menambahkan bahwa potensi tenggelamnya suatu wilayah juga terjadi di wilayah lainnya dan butuh perhatian yang sama seperti halnya di Jakarta. Wilayah Kota Pekalongan, Kota Semarang, dan wilayah Pesisir Demak memiliki laju penurunan muka tanah yang lebih besar ketimbang Jakarta. Selain itu, wilayah-wilayah tersebut memiliki luas area dibawah permukaan laut yang lebih besar ketimbang Jakarta. Apabila dalam waktu 10 tahun kedepan tidak terdapat upaya untuk mitigasi bencana yang baik, maka wilayah-wilayah ini justru lebih rentan ketimbang Jakarta. Lebih jauh, Dr. Heri Andreas menyatakan bahwa terdapat 112 Kabupaten/Kota yang memiliki resiko untuk tenggelam.

Kedepannya, penelitian multi-disiplin ilmu akan dilakukan dan diprioritaskan untuk wilayah-wilayah yang berpotensi tenggelam tersebut. Selain itu, dukungan dan perhatian dari pemerintah untuk mensinergikan antara penelitian dan upaya mitigasi potensi tenggelamnya suatu wilayah diharapkan dapat mencegah terjadinya dampak yang lebih luas. Belumlah terlambat untuk mencegah tenggelamnya wilayah-wilayah ini termasuk Jakarta.

Leave a Comment