Pemantauan Deformasi gunungapi Guntur dengan GPS

GUNUNGAPI GUNTUR JAWA BARAT

Gunung Guntur adalah salah satu dari 17 gunungapi di Jawa Barat. Gunungapi andesitik yang bertipe strato ini terletak 35 Km di sebelah Tenggara kota Bandung atau lebih tepatnya terletak di kota Garut. Puncak Gunung Guntur terletak pada koordinat 7o 8€™ 52.8€™€™ LS   dan   107o 50€™ 34.8€™€™ BT dengan ketinggiannya adalah 2249 m di atas permukaan laut. Gunung Guntur merupakan kompleks besar gunungapi yang dibentuk oleh beberapa kerucut, kawah, dan kaldera (Matahelemual, 1989). Berdasarkan sejarah letusannya Gunung Guntur pertama meletus pada tahun 1690 dan letusan terakhir pada tahun 1847. Letusan Gunung Guntur yang terbesar terjadi pada tahun 1840 dimana lava yang keluar mengalir hingga Cipanas yang berjarak 3 Km dari kawah Gunung Guntur (Kusumadinata,1979).

guntur2.thumbnailpb120048.thumbnailguntur3.thumbnailguntur4.thumbnail

Gunung Guntur dapat dicapai dari Kota Bandung menuju Kota Garut (55 km) dengan waktu tempuh 2 jam. Pendakian ke puncak/kawahnya dapat dilakukan dari Kampung Citiis sebelah selatan Gunung Guntur, dengan waktu tempuh 3 – 4 jam. Untuk menuju Kampung Citiis bisa dilakukan dari Kota Garut (3 km) dengan menggunakan kendaraan roda 4 (empat).  Berdasarkan data demografi, pemukiman di sekitar Gunung Guntur umumnya berada pada ketinggian 600m – 1000m dpl. Pemukiman ini sebagian besar terkonsentrasi di kaki tenggara dan selatan serta sebagian kecil di kaki timur dan utara

Selain memberikan dampak bencana ketika terjadi aktivitas vulkanis di gunung Guntur, sisi positif keberadaan gunungapi ini juga dapat kita lihat berupa inventarisasi Sumberdaya Gunungapi seperti mata air panas di Cipanas, Tarogong Garut, dan Bahan galian (batu, pasir) yang terdapat di Kampung Citiis, Cikatel dan Rancabango.

—————————————————————————————————————————————————

Pemantauan aktivitas vulkanis gunungapi

Aktifitas vulkanis suatu gunungapi dapat memberikan bentuk bencana alam kebumian yang menyertai kehidupan manusia.  Telah banyak sekali catatan mengenai bencana alam gunungapi ini disertai dengan dampak negatif yang ditimbulkannya terhadap manusia baik untuk segi materi dan imateri. Sebagai contoh catatan, dalam selang waktu 10 tahun saja, letusan gunungapi telah mempengaruhi kehidupan sekitar 620 000 jiwa penduduk Bumi ini, serta membawa cukup banyak korban jiwa manusia. Karena dampak letusan gunung api yang besar tersebut, para vulkanolog telah banyak berusaha mempelajari dan meneliti, kemudian memantau sebab dan mekanisme dari aktivitas vulkanis gunung api dalam rangka meningkatkan pemahaman terhadap fenomena dan aktivitas gunung api dan juga dalam rangka membangun suatu metode prediksi letusan gunung api yang dapat diandalkan.

Ada beberapa metode pemantauan aktivitas gunung api yang telah diaplikasikan sekarang ini [McGuire et al., 1995; Scarpa and Tilling, 1996], yaitu antara lain metode seismik (Gambar 1.1), metode deformasi (Gambar 1.2), metode kimia gas, metode termal, dan metode penginderaan jauh (dengan menggunakan sistem video, citra satelit, dan sebagainya). Metode-metode ini akan melibatkan sistem peralatan/sensor tersendiri, dan disamping itu dapat diimplementasikan secara episodik maupun kontinyu.

Metode yang paling banyak digunakan untuk pemantauan gunung api saat ini adalah metode seismik. Metode seismik yang menggunakan sensor seismometer ini pada dasarnya digunakan untuk mengevaluasi aktivitas yang terjadi di dalam gunung api. Disamping metode seismik, metode deformasi pun cukup banyak diaplikasikan dalam pemantauan gunung api dengan menggunakan berbagai macam sensor atau sistem, dan metode ini dianggap punya potensi yang sangat besar untuk berkontribusi dalam pemantauan aktivitas gunung api. Metode ini pada dasarnya ingin mendapatkan pola dan kecepatan dari deformasi permukaan gunung api, baik dalam arah horisontal maupun vertikal.

—————————————————————————————————————————————————

Pemantauan aktivitas vulkanis gunungapi Guntur Jawa Barat

Metode yang saat ini telah digunakan untuk pemantauan gunung api Guntur diantaranya metode metode seismik, metode pengukuran gaya berat, dan metode pemantauan deformasi dengan menggunakan Sipat Datar, EDM dan GPS. Tim pemantau utama adalah DVMBG, yang bekerjasama dengan berbagai institusi baik nasional maupun internasional, diantaranya dengan KK Geodesi FTSL ITB.

Untuk memantau aktivitas seismik di Gunung Guntur, Direktorat Vulkanologi (DVMBG) bekerja sama dengan Sakurajima Volcano Research Center Jepang telah memasang lima stasiun pengamat gempa (seismograf) di sekitar kawah Gunung Guntur. Selain itu DVMBG bekerjasama dengan institusi lainnya seperti GFZ Jerman memasang seismograf di beberapa tempat di tubuh gunungapi Guntur.  Metode seismik yang menggunakan sensor seismometer ini pada dasarnya digunakan untuk mengevaluasi aktivitas yang terjadi di dalam gunung api.

Disamping metode seismik, Pihak DVMBG bekerjasama dengan institusi lain seperti KK Geodesi ITB telah memanfaatkan metode deformasi seperti sipat datar, EDM dan GPS, untuk memantau aktivitas gunungapi. Metode ini dianggap punya potensi yang sangat besar untuk berkontribusi dalam pemantauan aktivitas gunung api. Metode ini pada dasarnya ingin mendapatkan pola dan kecepatan dari deformasi permukaan gunung api, baik dalam arah horisontal maupun vertikal.

Sementara itu pengukuran gaya berat telah dilakukan di gunungapi Guntur, salah satunya melaui kerjasma antara DVMBG, KK Geodesi FTSL ITB, dengan Nagoya dan Kyoto University. Metode gaya berat yang dilakukan adalah dengan metode pengamatan relatif (relative measurements) menggunakan gravimeter tipe geodetik, Lacoste-Romberg model G605, sedangkan posisi titik-titik stasion gayaberat ditentukan dengan metode penentuan
posisi teliti (precise positioning) menggunakan GPS tipe geodetik dua-frekuensi merk Leica.

—————————————————————————————————————————————————

Pemantauan aktivitas vulkanis gunungapi Guntur menggunakan GPS

Pemantauan  aktivitas deformasi di gunungapi  yang berada di sekitar  Jawa Barat mulai dilakukan  dengan menggunakan teknologi  GPS secara episodik (berkala) oleh peneliti dari KK Geodesi FTSL ITB yang bekerja sama dengan tim dari Direktorat Vulkanologi dan mitigasi bencana alam (DVMBG) dan Nagoya University Jepang mulai tahun 1996 sampai sekarang,  dimana salah satu gunung yang diamati adalah Guntur.

Pelaksanaan pemantauan deformasi melalui survai GPS di gunungapi Guntur telah dilaksanakan sebanyak 15 kali pengamatan, dari mulai tahun 1996 sampai dengan 2002.  Pengambilan data pada masing-masing kala pengamatan dilakukan kurang lebih 1 minggu. Ada sekitar 10 titik pantau deformasi yang diletakan disekitar tubuh gunungapi, kemudian 1 titik kontrol diletakan di pos pengamatan gunung guntur.

Di bawah ini adalah gambar-gambar dokumentasi survey lapangan pengambilan data GPS di titik-titk pantau deformasi gunung Guntur.  Titik Pantau ada yang terletak di puncak gunung dimana untuk menuju kesana kita harus berjalan kaki dengan medan menanjak membawa peralatan survey selama kurang lebih 3 jam.

gbr010.thumbnailgbr017.thumbnailgbr018.thumbnailgbr019.thumbnailgbr020.thumbnailgbr024.thumbnailgbr025.thumbnailgbr026.thumbnail

Pemantauan ground deformation gunung api dengan menggunakan GPS pada prinsipnya dapat dilakukan secara episodik atau kontinyu. Dalam pengamatan secara episodik, koordinat dari beberapa titik GPS yang dipasang pada gunung api, ditentukan secara teliti menggunakan metode survey GPS. Koordinat titik-titik ini ditentukan dalam selang periode tertentu secara berkala dalam selang waktu tertentu, dan dengan menganalisa perbedaan koordinat yang dihasilkan untuk setiap periode, maka karakteristik deformasi dari gunung api dapat ditentukan dan dianalisa.

Pemantauan deformasi secara kontinyu secara prinsip sama dengan pemantauan deformasi secara episodik, yang membedakannya hanya aspek operasional dari pemantauan. Dalam pemantauan deformasi  secara kontinyu koordinat dari titik-titik GPS pada gunung api ditentukan secara real€“time dan terus menerus dengan sistem yang disusun secara otomatis. Agar metode ini dapat dilakukan maka diperlukan komunikasi data antara titik-titik GPS pada gunung api dan stasiun pengamat.

Data yang dikumpulkan tiap survey selanjutnya diproses dan digabungkan dengan hasil pengolahan data survey sebelumnya untuk di analisis karakteristik deformasi yang terjadi pada  gunungapi guntur yang diamati. Strategi pengamatan dan pengolahan data yang optimal merupakan salah satu sasaran utama penelitian, untuk memperoleh hasil yang paling baik.

Data GPS yang diambil untuk keperluan deformasi ini yaitu data phase dan data code GPS dari tipe Geodetik receiver GPS dual frekuensi (L1/L2), dengan lama pengamatan sekitar 10 sampai 24 jam. Desain jaring pengamatan yang digunakan yaitu desain jaring radial, dengan mengikatkan titik-titik pantau terhadap satu titik ikat (referensi) yang telah ditentukan di luar asumsi daerah yang kemungkinan mengalami deformasi.

Salah satu hasil pemantaun deformasi gunungapi Guntur dengan menggunakan GPS, yaitu pada periode pemantauan tahun 1998 ketika gunung Guntur mengalami krisis, terlihat indikasi tubuh gunungapi mengalami inflasi.  Informasi diperoleh dari pola vektor pergeseran dan pola strain dan stress pada jaring baseline yang diamati.  Kemudian setelah pasca krisis 1998, data GPS memperlihatkan pola deflasi pada tubuh gunungapi Guntur.

 

Berita Terkait