Beautiful Class
January 5th, 2010Pembelajaran Penuh Kedamaian !
Kelas, meskipun pernah dianggap menjadi saksi terjadinya sebuah Tirani (http://geodesy.gd.itb.ac.id/wedyanto/?p=143), namun ternyata bisa menjadi sebuah tempat dimana ketenangan jiwa tercapai. Meskipun, ada anekdot dimana kelas adalah “ruang pelampiasan” emosi dosen dalam konotasi “ketenangan jiwa” yang negatif, dalam tulisan ini, justru ingin diungkapkan kebalikannya yaitu yang positif.
Pernyataan Huba dan Freed yang dikutip dalam tulisan pada blog diatas, menjelaskan tentang sebenarnya mahasiswa di kelas kita merupakan Tomorrow’s Leader. Kelas-kelas di kampus ini terdiri dari Dua Aktor, yaitu Dosen dan Mahasiswa. Bagaimanapun, kedua Aktor tadi akan berperan mengkondisikan sebuah Kelas. Sifat Kelas akan muncul dan berkembang tergantung, tentunya, oleh Keduanya.
Kata Leadership dari para calon Pemimpin (Leader) itu sendiri merupakan hal yang bersifat abstrak, walaupun tolok-ukur kepemimpinan (leadership) dapat ditetapkan. Sudah tentu, apabila sebuah kelas mendukung proses pengembangan hal-kepemimpinan tentu akan akan kental tergantung pada kekuatan softskills. Banyak sekali unsur-unsur softskills, hanya saja, dalam tulisan ini di dalam kelas hal Motivasi dan Komunikasi menjadi sesuatu yang dianggap dapat terasah dan diasah.
Motivasi dan Komunikasi yang baik akan menjadikan Iklim Kelas yang baik. Masih semuanya itu, –Motivasi, Komunikasi dan Iklim–, diperani secara bersamaan oleh Kedua Aktor diatas. Motivasi Dosen rendah untuk hadir di ruang konser (concert) kelas akan sangat berpengaruh meskipun Motivasi para Mahasiswanya tinggi. Demikian sebaliknya, dan itu juga berlaku untuk hal Komunikasi.
Sudah puluhan tahun, hal itu menjadi perbincangan yang akhirnya dianggap bukan hal baru. Sebenarnya ada hal baru yang berubah, Lingkungan (environment) Tak Hidup atau Benda-benda di kelas. Apakah itu ? Teknologi Sarana Prasarana ! Tanpa kita sadari ternyata perubahan lingkungan yang membentuk iklim kelas dipengaruhi juga oleh Perkembangan Teknologi. Sebagai, ilustrasi, pengadaan kapurtulis akan sangat jauh berbeda dibandingkan 20 tahun yang lalu !
Kita sudah memasuki era dimana Komunikasi tidak dapat dipisahkan dengan Teknologi. Mengapa kita tidak memanfaatkan Perkembangan Teknologi untuk meningkatkan Komunikasi, dalam hal ini komunikasi untuk/dalam proses Pembelajaran ?! Di sisi lain Motivasi bisa terangkat apabila Komunikasi Pembelajaran berlangsung cair (baca: bukan berkomunikasi diantara “gunung-gunung es”) !
Di sisi lain, budaya berkomunikasi ternyata telah berubah. Selama ini, budaya konvensional di kelas dalam berkomunikasi melalui cara verbal dan tulisan di papantulis ataupun layar atau berbentuk materi (handout). Akan tetapi sebenarnya, yang tidak kita sadari, Komunikasi di kelas dapat dilengkapi dengan memetik buah perkembangan sistem komunikasi-berkorespondensi. Komunikasi Berkorespondensi Surat-menyurat dikembangkan dengan adanya Surat-Elektronik (e-mail). Berkorespondensi dengan e-mail dapat dimanfaatkan untuk komunikasi personal maupun publik, untuk hal terakhir kita kenal Mailinglists. Sebenarnya sesuai dengan cara berkorespondensi yang konvensional yaitu surat-menyurat, sering dilakukan secara personal atau satu pihak atas nama institusi. Ternyata budaya surat-menyurat yang tadinya hanya untuk komunikasi personal bisa digunakan untuk publik dengan adanya Mailinglists.
Sekarang ini, ternyata, komunikasi publik yang merupakan juga sifat komunikasi di kelas-kelas perkuliahan tidak hanya bisa dengan mailinglists,dapat juga menggunakan atau memanfaatkan perkembangan berkorespondensi dengan media Chatting dan Papan Diskusi Online. Hanya saja diperlukan pendamping sistem, yaitu Sistem Manajemen Pembelajaran (Learning Management System, LMS), yang bagi kita sesuatu yang mudah diadakan hanya tinggal dan tergantung Kebijakan Institusi kita Mendukung ataukah Tidak ?!
Apabila Komunikasi Meningkat, Motivasi semakin membahana, Iklim Kelas menjadi Damai ! Suatu Tempat dan Kondisi yang dicari dan dinginkan oleh para Dosen dan Mahasiswa agar lebih Nyaman (enjoy) dalam menunaikan kewajiban masing-masing. Pembelajaran menjadi sesuatu yang dicari karena kenyamanan dalam menjalankannya. Kata mahasiswa “Siap Coy !”.
Ganesa, 161209,
wedykun ( wedyanto@gd.itb.ac.id )