Beautiful Class

January 5th, 2010

Pembelajaran Penuh Kedamaian !

Kelas,  meskipun  pernah  dianggap  menjadi saksi terjadinya sebuah Tirani (http://geodesy.gd.itb.ac.id/wedyanto/?p=143), namun ternyata bisa menjadi sebuah  tempat  dimana  ketenangan jiwa tercapai. Meskipun, ada anekdot dimana  kelas  adalah  “ruang pelampiasan”  emosi  dosen  dalam   konotasi “ketenangan  jiwa” yang negatif, dalam tulisan ini, justru ingin diungkapkan kebalikannya yaitu yang positif.

Pernyataan Huba dan Freed  yang dikutip dalam tulisan  pada blog  diatas, menjelaskan   tentang  sebenarnya  mahasiswa  di  kelas  kita  merupakan Tomorrow’s Leader. Kelas-kelas di kampus ini terdiri dari Dua Aktor, yaitu  Dosen  dan  Mahasiswa.  Bagaimanapun,  kedua  Aktor  tadi  akan berperan mengkondisikan sebuah Kelas.  Sifat  Kelas akan  muncul  dan berkembang tergantung, tentunya, oleh Keduanya.

Kata Leadership dari para calon Pemimpin (Leader)  itu sendiri merupakan hal yang bersifat abstrak,  walaupun tolok-ukur kepemimpinan  (leadership) dapat ditetapkan.  Sudah tentu,  apabila  sebuah kelas  mendukung  proses pengembangan hal-kepemimpinan tentu akan akan kental tergantung pada kekuatan softskills. Banyak sekali unsur-unsur softskills, hanya saja, dalam tulisan ini di dalam  kelas  hal Motivasi dan Komunikasi  menjadi sesuatu yang dianggap dapat terasah dan diasah.

Motivasi dan Komunikasi yang baik akan menjadikan Iklim Kelas yang baik. Masih  semuanya itu,  –Motivasi, Komunikasi dan Iklim–,   diperani secara bersamaan oleh Kedua Aktor diatas.  Motivasi Dosen rendah untuk hadir di ruang konser (concert)  kelas  akan sangat berpengaruh  meskipun Motivasi para Mahasiswanya tinggi.  Demikian sebaliknya,  dan itu juga berlaku untuk hal Komunikasi.

Sudah puluhan tahun, hal itu menjadi perbincangan yang akhirnya dianggap bukan hal baru. Sebenarnya ada hal baru yang berubah, Lingkungan (environment) Tak Hidup atau Benda-benda di kelas. Apakah itu ? Teknologi Sarana Prasarana ! Tanpa kita sadari ternyata perubahan lingkungan yang membentuk  iklim kelas dipengaruhi juga  oleh  Perkembangan Teknologi. Sebagai,  ilustrasi,  pengadaan kapurtulis akan sangat jauh berbeda dibandingkan 20 tahun yang lalu !

Kita  sudah  memasuki  era  dimana  Komunikasi tidak  dapat  dipisahkan dengan  Teknologi.  Mengapa  kita  tidak  memanfaatkan  Perkembangan Teknologi  untuk  meningkatkan  Komunikasi,   dalam  hal  ini komunikasi untuk/dalam  proses  Pembelajaran ?!  Di sisi lain  Motivasi bisa terangkat apabila  Komunikasi Pembelajaran berlangsung cair (baca:  bukan berkomunikasi diantara “gunung-gunung es”) !

Di sisi lain,  budaya  berkomunikasi  ternyata  telah  berubah.  Selama ini, budaya konvensional  di kelas  dalam  berkomunikasi  melalui cara verbal dan tulisan di papantulis ataupun layar  atau  berbentuk materi (handout). Akan tetapi sebenarnya,  yang tidak kita sadari,  Komunikasi di kelas dapat  dilengkapi dengan  memetik buah  perkembangan sistem komunikasi-berkorespondensi. Komunikasi Berkorespondensi Surat-menyurat dikembangkan  dengan  adanya  Surat-Elektronik  (e-mail).  Berkorespondensi dengan e-mail dapat  dimanfaatkan   untuk   komunikasi personal maupun publik, untuk hal terakhir kita kenal Mailinglists. Sebenarnya sesuai dengan cara berkorespondensi  yang  konvensional  yaitu   surat-menyurat, sering dilakukan  secara personal  atau satu  pihak atas nama institusi.  Ternyata budaya  surat-menyurat  yang  tadinya hanya  untuk  komunikasi personal bisa digunakan untuk publik dengan adanya Mailinglists.

Sekarang ini, ternyata, komunikasi publik yang merupakan juga sifat komunikasi di kelas-kelas perkuliahan tidak hanya bisa dengan mailinglists,dapat juga menggunakan  atau  memanfaatkan  perkembangan berkorespondensi dengan media Chatting  dan  Papan Diskusi Online.  Hanya saja diperlukan pendamping  sistem,  yaitu  Sistem  Manajemen  Pembelajaran  (Learning Management System, LMS), yang bagi kita sesuatu yang mudah diadakan hanya tinggal dan tergantung  Kebijakan Institusi kita  Mendukung ataukah Tidak ?!

Apabila Komunikasi Meningkat, Motivasi semakin membahana, Iklim Kelas menjadi Damai !  Suatu Tempat dan Kondisi  yang dicari dan dinginkan oleh para Dosen dan Mahasiswa agar lebih  Nyaman  (enjoy) dalam  menunaikan kewajiban masing-masing. Pembelajaran menjadi sesuatu yang dicari karena kenyamanan dalam menjalankannya. Kata mahasiswa “Siap Coy !”.

Ganesa, 161209,
wedykun ( wedyanto@gd.itb.ac.id )

Lha…!

September 9th, 2009

Masih  perlu didengarkah,
kisah katak-katak dalam panci berisi air yang digodok?
Masing-masing t-a-t-e-r-e-j-e-l-a-n bukan saling-tolong

Lha,
katak bukan manusia,
m
anusia punya akal-budi,
c
erita tak laku lagi,
Y
a kan?
Betul kan?!

[ganesa,090909]

ps. katak bukan kepiting lho !

Ih…!

June 12th, 2009

Ih…!

—–

diantara mulut dan jemari

di lintasan ingin pun pikir

tak sudi masih beriring

gemas menghardik

adil merintih

iba meracik asih

damai berharap angin

 

alam masih tak bergeming

meski manusia senang pun sedih

alam tak tertatih

hanya manusia slalu merintih

alam tak pernah lalai

tapi manusia berkalang diri, sendiri

alam tak hendak menguji

namun manusia bersisik benci

 

satu, dua, tiga berbisik

hujan terdahului titik air

banjir pun bergilir

badai tak luput dituai

bukan salah hujan tlah hadir

namun amanah tak kunjung tertunai

 

masih ?

tlah berakhir ?

belum berhenti !

ternyata nikmat tak kunjung disyukuri !

wuih …?!

 

(ganesa, 120609, wedykun)

PHD comic

May 26th, 2009

Semut Seribu

April 14th, 2009

-o>
  Seorang Bocah bermain bola-tendang
  berlatih sebelum tanding
  mentari tergelincir seperempat-pandang
 
  Tak lama,
  badan bersandar pohon besar
  lepaskan sang lelah
  mata pandangi orang lalu lalang

  Terlihat semut-semut pun bercengkerama
  mnyambut suasana musim semi
  setlah lama rindukan sengat mentari
  namun mereka tak sadari
  b a h a y a

  Satu persatu kawannya terinjak
  manusia nan lalulalang
  oleh mahluk nan sering lupa pijakan
  oleh mahluk yang terlalu asyik dengan dirinya
 
  musim semi,
  belumlah lama berselang
  bagi mahluk semut
  namun,
  satu berganti sepuluh
  sepuluh berselang seratus
  seratus dijelang seribu

 ~o>

  tokyo 15 mei,1996, 
  ext.ver.ganesa 140409 [wedykun]
 
 

Gumam sang-Mentari

April 2nd, 2009

      
      sengat mentari smakin terik
      gemawan bak disapu angin
      irama alam pun sulit dimengerti
      seakan mnegur tuk dilirik
      sapa bagi mahluk manusia
      masih tak tersambut balas
      di ketinggian, mentari bergumam,
       
      ..mahluk-mahluk berkaki dua ini
        bak mengigau pun bermimpi
        walau bumi benderang kusinari
          
      ..manusia-manusia ini
        masih di alam mimpi
        lihatlah !
        tak sadar lengan mnyikut
        mulut berceracau buruk
        kepala tetangga pun diinjak
        bahkan lengan mbunuh pun tak tahu
          
      ..smakin kupanasi bumi
        tuk sapukan mimpi
        namun kian menjadi-jadi
       
      ..nampak pengigau
        nan kumpulkan harta bergunung-gunung
        pergi ke penjuru dunia
        pulang menimbun gunung
        banyak timbunan nan tak bertuan
        sbab tubuh tuan tlah mnyatu tanah, dikubur
       
      ..pun terlihat pengigau-pengigau lain
        nan duduk bak melamun
        saksikan bolak-baliknya penimbun gunung 
          
      ..manusia-manusia ini
        smakin jejali bumi bulat
        namun masih “sliweran” di mata terpejam  
     

      ..tangan berjabat
        saling bercakap
        duduk berjajar
        semua dilaku namun jiwa mengigau
        hati nan tak bersapa
          
      di balik bumi lain,
      rembulanpun bersaksi
      sambil bandingkan keluh mentari
       
      ~
        tokyo 30-Aug’95, (ext.ver.april’09)
 
  

 

Fortifikasi dengan Teknologi Informasi: Seni dan Budaya !

March 5th, 2009

Ketika memikirkan tulisan Cardiyan HIS yang inspiratif (”ITB Berjaya, ITB Prihatin”,IA-ITB@yahoogroups.com,  2 Maret, 2009) khususnya pada kalimat “.. saya yakin Manusia ITB akan mampu melakukan hal serupa yang telah dilakukan manusia-manusia Jepang, Korea Selatan dan negara-negara Skandinavia, kalau melihat kepada potensi bakat unggul yang dimilikinya…”, disaat tersebut penulis menerima Pesan-Singkat .

Pesan singkat itu dikirimkan rupanya bertujuan untuk menambah wawasan penulis ini karena judulnya cukup unik  ”Fortifikasi dalam Globalisasi” (Kompas, 4 Maret 2009, hal.7) dan rupanya Penulisnya ialah yang telah mengirimkan Pesan-Singkat tersebut, Kusmayanto Kadiman. Tulisan terakhir itu juga memunculkan analogi disini tentang sebuah strategi dalam sepakbola, “..apabila pertahanan kuat maka akan memperkaya strategi variasi penyerangan.”.

Sedikit ingin menambahkan sesuatu dari pemicu pikir diatas, yaitu dua tulisan dari dua Penulis diatas, terpetakan potensi ITB dalam hal Interaksi dengan Teknologi Informasi, dalam hal ini dunia-cyber. Interaksi untuk Proses Pembelajaran antar Perguruan Tinggi (PT) di Indonesia telah dirintis oleh USDI (Unit Sumber Daya Informasi) atas nama ITB dengan keterlibatannya dalam pekerjaan-pekerjaan DIKTI, misal. INHERENT. Bukan hanya pertukaran pengetahuan (knowledge sharing) namun juga terjadi pertukaran budaya pembelajaran dari semua peserta antar PT. Pertukaran-pertukaran tersebut jelas terjadi karena PT-PT yang terlibat dalam kegiatan itu tersebar dari “Sabang sampai Merauke” (!).

Bagi penulis, usaha yang dilakukan itu merupakan hal Fortifikasi pemanfaatan teknologi informasi yang telah mendunia dengan Pengembangan Potensi Lokal.Usaha tersebut masih merupakan rintisan, tinggal rintisan apakah hanya sebatas “bak rintisan membuka jalur di hutan”, artinya berhenti hanya sampai rintisan saja atau akan terbukanya infrastruktur baru yang bermanfaat ?!

Bentuk kekuatan lain yang masih tersembunyi dalam ITB, yaitu kekuatan Seni (dan Budaya). Ditulis dalam kurung karena budaya muncul dengan beragamnya latarbelakang budaya para Aktor di ITB (Dosen, Mahasiswa dan satf non akademik). Bahkan dalam dunia kemahasiswaan telah ada unit-unit kegiatan seni-budaya yang mempunyai kegiatan yang bisa menjadi acuan kegiatan sejenis di tanah air !

Pemanfaatan teknologi yang dimaksud diatas yang kini menjadi sebuah larutan globalisasi menjadi sebuah peluang untuk Fortifikasi dalam Seni dan Budaya.Mungkin ilustrasi berikut bisa menjelaskannya, dalam masyarakat di Jepang banyak sekali kelompok-kelompok sosial hobby dan pengamat seni-budaya Indonesia. Mereka terkadang membuat kelompok-kelompok seni-budaya Indonesia, misalnya: kelompok bahasa Indonesia, kelompok Angklung, kelompok Karawitan, banyak lagi. Kelompok-kelompok itu mempunyai dukungan infrastruktur yang cukup lengkap. Belum lagi para LANSIA (Lanjut Usia) sangat banyak membentuk kelompok-kelompok seperti itu karena itulah kegiatan mereka sehari-hari, dan sebenarnya Jepang adalah salah satu negara dengan tingginya harapan usia lanjut.

Secara kebetulan salahsatu koneksi jaringan dari ITB melalui AI3 langsung berhubungan dengan “dunia” Jepang. Bisa saja, ITB memfasilitasi siaran-siaran via video conference (dua arah) dan semacamnya, atau yang satu arah (via ganesha tv misalnya), tentang Kesenirupaan Indonesia, atau yang dimotori oleh unit-unit seni-budaya di ITB misalnya seni dan budaya Sunda, Minang, Ludruk, malah mungkin Genshiken (alias “Jepang ala ITB”), dan masih banyak lagi unit-unit terkait. Malah bisa melibatkan kegiatan sejenis dari kelompok-kelompok di Bandung dan Indonesia, ITB sebagai fasilitatornya tentu !

Suatu saat seorang Rekan yang sedang studi di Jepang bersama dengan Dosen dan Keluarga Dosen itu bertemu kami di kampus ITB, tepatnya di Aula Barat. Setelah ditanyakan kepada Rekan itu, ternyata mereka sedang wisata-budaya dengan melihat-lihat bangunan cagarbudaya di ITB. Peluang bukan ?!

Tadi pagi, Kamis 5 Maret, pk.05:30an, BBC via El Shinta FM menyampaikan informasi bahwa Harapan Usia Lanjut di Jepang berhubungan dengan pola makan mereka yang sehat. Bisa saja terjadi hal timbal balik dari kegiatan yg diuraikan diatas, masyarakat kita menyerap hal-hal positip seperti itu. Malahan ragam sayurmayur di negara katulistiwa ini bisa diperkenalkan juga kepada mereka. Efek “bola salju” positip menjanjikan semakin kuatnya Fortifikasi bangsa yang kita cintai ini. Mudah-mudahan !

Ganesa,050309,

wedykun

Terbuai Status

February 5th, 2009

Seorang Dokter yang bertugas mengawasi perkembangan medik seorang Pasien mendadak berkata kepada Perawat di sebelahnya “Saya dokternya ! Saya yang bertanggungjawab ! Sudah berapa lama kamu tangani pasien jantung ?…”. Perawat itu diam dan sebenarnya kesal, akhirnya diam tidak berkata apapun.

Sebenarnya apa yang terjadi sebelumnya ? Perawat itu semalaman, sebelum Dokter tersebut memasuki ruang Pasien, mengamati observasi) kondisi Pasien. Disaat pagi harinya, Ia menyarankan kepada Dokter agar Pasien ditangani di ICU, namun Dokter berkata seperti demikian. Disebabkan kekesalannya malah kemarahannya, Perawat  itu  tidak menyampaikan hasil pengamatannya yang telah dilakukan semalaman. Walhasil, kondisi Pasien menjadi sangat-sangat kritis!

Status Spillover (SS), demikian Roger & Daniel menyebutkan kondisi yang dialami oleh Dokter itu. Status seseorang sering membuai sehingga dapat melupakan seseorang  untuk melakukan komunikasi dengan tepat. Masalah komunikasi itu sangat penting, demikian  masalah komunikasi diangkat juga oleh Dr.dr. Retty Ratnawati, M.Sc pada Kolokium Pembelajaran 23 Januari 2009, meskipun itu dalam kononotasi kondisi di kelas-kelas.

Roger & Daniel menambahkan tentang SS dengan ilustrasi berikut. Seorang selebritis yang begitu populer yang bisa memanfaatkan statusnya untuk bicara soal pemerintahan sampai dapur, misalnya, manakala mengenakan baju praktek-dokter dan dia bukan dokter, kemudian stetoskop dikalungkannya, lalu memberi advis/nasehat kesehatan, bagaimana kesan atau pendapat umum atas advisnya itu ?

SS memuat kandungan energi yang bisa mematikan atas Komunikasi, sebutlah SS bisa menjadi suatu hal yang kontraproduktif. Sudah tentu SS pun bisa muncul pada satu pihak diantara pihak-pihak lain.

Ambil contoh, Orangtua berkata pada anaknya “Kamu harus selalu nurut pada Orangtua !”. Contoh-contoh lain, seorang anak berkata “Mengapa saya dilahirkan kok harus turut semua kata Orangtua?!!!”; Dosen di kelas berkata “Gitu aja enggak tahu !”; mahasiswa berkata “Dosen itu killer !”; manajer berkata “Kalau kamu tidak suka, berhenti saja dari bekerja disini !”; pekerja berkata “Anda, Para Pimpinan menzalimi kami !”; atau seorang atasan berkata “Jabatan anda-anda hanya diatas kertas bagi saya !”.

Tapi, apakah sekarang memang jamannya Status Spillover atau Terbuai Status begitu “sih” ? Kita berharap semoga tidak begitu seterusnya, bagaimana caranya ?!

Ganesa, 030209, wedykun.

Catatan sebuah Kelas (semester 1 08/09)

January 30th, 2009

Kelas Ilmu Hitung Geodesi (IHG) semester I/08-09 membuat sang-dosen harus stage-act di atas meja *B-)*. Tujuannya, pencegahan “virus a&tis” (*hahahaha*). Sayangnya saya tidak ambil-foto ketika mereka manyun/cemberut/madesu (*laugh*), seakan-akan kuliah IHG menyenangkan mereka. Tapi, semoga demikian ! Amin.

{end of file}

Tidak Lagi : Pengajar versus Siswa

January 21st, 2009

[Berita Pembelajaran ITB :”Tidak Lagi : Pengajar versus Siswa “; Oleh: Wedyanto Kuntjoro]

Betty Edwards, seorang yang mengenalkan metode menggambar The New Drawing on the Right Side of Brain, menjadi pelopor pengembangan potensi otak belahan kanan masyarakat di Amerika (AS). Pengembangan potensi otak sisi kanan menjadi pusat perhatian di AS, salahsatunya disebabkan mereka terperangah dengan desakan kondisi dimana desain dirasa penting tidak hanya fungsi; argumentasi tidak semenarik bercerita; permainan menjadi hal yang menjadi perhatian dibandingkan keseriusan; empati menjadi suatu hal yang lebih penting daripada uraian yang melulu logis. Hal-hal tersebut juga diungkapkan oleh Daniel H. Pink dalam bukunya A Whole New Mind.

Persoalannya bukan pada otak belahan mana yang harus lebih dominan, namun kedua belahan otak, –belahan kanan dan belahan kiri–, sama pentingnya. Sebenarnya penulis lebih cenderung menggunakan kata Pikiran (Mind) dibandingkan kata Otak, namun agar tidak terlalu berkutat pada perdebatan definisi sebaiknya akan digunakan kata Otak dalam tulisan ini. Pertanyaannya, dimanakah perbedaan fungsi keduanya, otak kanan dan kiri ? Para psikolog dan beberapa psikiater menyebutkan sisi/belahan kiri mengkhususkan pada teks dan untuk sisi/belahan kanan pada konteks. Kemudian, belahan otak bagian kiri menganalisa rincian-rincian, sedangkan belahan otak kanan melakukan sintesa secara keseluruhan dalam persepsi akan sesuatu.

Kembali pada metode yang dikembangkan Betty Edwards, Ia mencoba mengembangkan otak belahan kanan yang berkorelasi dengan sinkronisasi antara perekaman ingatan akan gambar (image) objek wajah dengan kemampuan tangan untuk menampilkan rekaman wajah secara keseluruhan yang dilihat. Mengapa hal itu diperhatikan ?

Berikut ilustrasi mengenai pertanyaan terakhir itu. Kemampuan penglihatan tiga dimensi kita, –karena ada dua mata yang terpisah dengan basis-mata tertentu–, akan mengetahui jarak. Misalnya, kita sedang berjalan dan kelihatannya akan mendekati bahkan akan membentur sebuah daun pintu. Seandainya satu mata kita tutup, sudah tentu kemampuan tiga-dimensi hilang, disaat berjalan kita masih mempunyai persepsi akan mendekati dan membentur daun pintu itu. Sebenarnya, pada saat mata tertutup-sebelah otak belahan kanan dan kiri saling ”bahu-membahu” merekam garis-garis gambaran daun pintu semakin meluas kemudian nalar menganalisa daun-pintu itu semakin dekat dan akan membentur kita ! Otak belahan kanan lah yang merekam gambar daun pintu secara keseluruhan dan otak belahan kiri lah yang menganalisa mendekatnya daun pintu itu.

Permasalahan yang terjadi seperti yang diungkapkan sebelumnya mengenai kondisi di AS, pada kenyataannya tidak jauh berbeda pada kelas-kelas pembelajaran di tempat kita. Kondisi terkini dari amatan penulis, atribut kepiawaian Pengajar dengan unggul dalam memfungsikan otak belahan kiri berbenturan dengan atribut para Peserta/Siswa kelas yang pada jaman ini unggul dalam memproses otak belahan kanannya. Untuk membedakan keunggulan masing-masing itu, misalnya, Pengajar dan Siswa bertanding video game sepakbola dan semacamnya diprediksi para Siswa akan menjuarainya. Namun, misalnya juga, diilustrasikan apabila ada pertandingan kecepatan menghitung para Pengajar diprediksi akan memenangkannya. 

Suatu saat, para siswa  berbisik satu sama lain, ”…bapa ini pelupa amat sih…itu kan materi dua minggu lalu…kenapa diberikan lagi ?..”. Materi dua minggu lalu tentu bukan pada isi penjelasan Pengajar, namun mereka tentu hafal akan ilustrasi dan layout bahan presentasinya (!). Fakta berikutnya tentang pentingnya visualisasi bagi Siswa untuk menyaksikan mimik wajah Pengajar, yang merupakan kerja otak belahan kanan bagi para siswa. Di suatu kelas, para Siswa tampak melambai-lambaikan kertas ke atas, — ibaratnya orang yang berperang dan melambai-lambaikan bendera dan semacamnya tanda menyerah–, dimana saat itu Pengajarnya menulis di papantulis dan bicara menghadap papantulis atau bahan ajar dalam waktu yang lama !

Jamie Escalante dan Marva Collins merupakan sosok Pengajar yang perlu dicontoh, demikian diutarakan oleh Prof.  Carol S. Dweck. Jamie Escalante memberikan materi kalkulus universitas kepada para siswa di sekolah menengah atas dengan metode permainan. Metode permainan yang diterapkan semacam permainan ular-ularan dimana yang tidak bisa menjawab akan diminta untuk berdiri kembali ke urutan paling belakang barisan ular-ularan itu. Marva Collins mengajar para siswa yang pernah dihakimi dan terbuang. Seorang anak dikatakan selalu berusaha bunuhdiri hampir setiap kali mendapat hukuman. Seorang anak memukul siswa lain dengan palu pada hari pertama sekolah. Setiap orang tahu bahwa semua itu kesalahan mereka sendiri. Semua orang begitu,  tetapi Collins tidak ! Kalimat berikut merupakan salahsatu yang diucapkannya “..sekolah ini mungkin saja membiarkan kalian gagal..nah saya janji kalian pasti akan bisa…tidak seorangpun dari kalian akan gagal…baiklah anak-anak…ucapkan selamat tinggal pada kegagalan…”. Walhasil, tercatat para siswa menjadi sangat antusias dan berhasil dalam sekolahnya.

Hal penting dari kedua tokoh itu, mereka tidak pernah menurunkan standar  dalam pembelajaran. Hanya persoalannya, bagaimana kita menjadi sepiawai Escalante dan Collins ?! Mereka merupakan Pengajar dengan kemampuan mensinergikan otak belahan kanan dan kiri, sehingga mampu mengubah polapikir (mindset) sekaligus membuat para siswa mampu menyerap dalam pembelajaran.

Sampai baris ini tiba-tiba penulis tersadarkan ! Bukankah di institusi ini lengkap berkiprah para Ahli-Seni, Saintis dan Ahli-Teknologi; belum lagi terdapat banyak unit kegiatan kemahasiswaan, khususnya dalam seni dan budaya dan kemasyarakatan dimana banyak anggota sekarang menjadi Pengajar yang pandai menari, bermusik, dan semacamnya ? Mengapa tidak, para Pengajar di kampus tercinta ini disinergikan saling bahu-membahu untuk meningkatkan capacity building dalam Peningkatan Kualitas Pembelajaran yang digelutinya ?!

[wedykun]

EDISI-CETAK