From Banjaran TO Graz

Semenjak kecil the wonderboy putra banjaran memang sudah memperlihatkan talentanya. Sudah terlihat tanda-tandanya bahwa dia akan pergi ke Graz suatu saat. Ketika di kelas nol kecil dia sudah dengan pasih dapat membaca huruf bukan saja A sampe Z namun AA sampai ZZ. Begitu pula dengan angka 1 sampai 10 dapat diucapkan dengan sungguh cepat dalam logat indonesia banjaran yaitu Jiwalupatmanepjuhpanlanluh. Guru-nya di TK pun sungguh terpukau dengannya. Ketika masuk SD, dia langsung terpilih menjadi KM (Ketua Murid) yang mempunyai tanggung jawab memeriksa kuku teman-temannya setiap senin pagi sebelum masuk ke dalam kelas. Gol-gol indah pun kerap di cetak-nya ketika dia bermain bola di sawah. Ketika ditanya apa cita-citanya, dengan tegas ia menjawab ingin masuk Geodesi ITB S1, kemudian ingin S2 ke Nagoya Jepang, dan S3 di Graz.  Dan… ternyata cita-citanya benar-benar menjadi kenyataan.

kereta-kuda01.jpg   reindeer001.jpg       denx_sunda.JPG   robocop01.jpg

Masa-masa S1 di ITB dia lewati dengan kegiatan yang terlalu positip. Aktip bgt di organisasi mahasiswa geodesi sebagai pengkaji teknik gapleh tingkat tinggi, kemudian membina sisi rohani mahasiswa geodesi membuat dia layak memakai jaket oranye siang dan malam. Aktipitasnya di lembaga keagamaan kampus telah mendidik mental dia untuk tidak menjadi orang gila dan murtat. Sementara itu hobi-nya di depan komputer membuat dia menjadi penjaga labkom selama hampir empat periode jabatan. Bernese kemudian menjadi makanan sehari-hari dia. Garpit menjadikannya tetap terjaga.  Dia bahkan sampe jadi lupa kalo sebenarnya makanan pokok orang banjaran itu adalah nasi. Tahun 1999 akhirnya dia lulus. Satu dari cita-cita telah terwujud.

Dengan bekal ijazah dan transkrip yang tentunya sudah dilegalisir, ia melamar sekolah S2. Dan akhirnya dia keterima di Nagoya University. Dengan berbekal sekoper baju, diselipkan satu bos garpit, ia pergi ke Nagoya dengan menggunakan pesawat Thai Airways. Dari Bandara Soekarno hatta jam 17.30, tiga jam kemudian transit di Bangkok selama 6 jam, dan akhirnya take off ke Nagoya jam 00.30 kemudian landing pukul 07.30 waktu kelurahan Nagoya city. Pertama-tama dia kaget, sungguh berbeda kota Nagoya dengan kota Banjaran. Namun akhirnya dia menyadari bahwa Nagoya adalah kota propinsi sementara Banjaran adalah kota Kecamatan.

Masa-masa S2 di Nagoya kembali dia lewati dengan kegiatan yang terlalu positip. Jam 6 pagi dia sudah berada di lab, kemudian jam 10 malam dia masih di lab. Bahkan tidur pun sering di lab. Sampai-sampai dia suka lupa malah mau membayar uang kost-an ke lab. Merasa aktipitasnya masih kurang, sungguh sayang kalo waktu terbuang walau 3,4 detik saja, maka dia giat berolah raga. Ketika musim dingin dia memilih olah raga badminton, ketika musim semi dia memilih olah raga badminton, dan ketika musim panas, dia memilih olah raga badminton. Ternyata masih ada waktu tersisa juga maka dia manfaatkan dengan baito. Akhirnya tahun 2004 dia meraih gelar Master of Science dari Nagoya University dengan topik penelitian GPS Tomography. Dua dari cita-citanya telah terwujud.

Setelah selesai S2 di Nagoya sebenarnya dia kemudian keterima menjadi mahasiswa S3 disana. Namun untuk melengkapi cita-citanya, maka dia mau ga mau harus melamar beasiswa ke Graz, karena waktu kecil ia sudah palang berucap bercita-cita pergi ke Graz, selain pergi ke dupan, kebun raya bogor,dan situ bagendit. Pucuk dicinta AA jim pun tiba, akhirnya ada tawaran beasiswa ke Graz, sebagai bagian dari kerjasama riset Early Warning System. Berbekal ilmu yang telah ia raih di Jepang, maka ia-pun keterima di TU Graz, sekolah bergengsi bagi bidang geodesi.  Mbah mbah geodesi berkumpul disana.  Beban berat dipikulnya. Seluruh masyarakat Banjaran mengandalkannya. Kisah pun dimulai..From Banjaran to Graz….

Kini sudah genap setahun dia di Graz, sungguh mengagumkan, perjuangannya tidak sia-sia. perkembangan pesat terlihat dikeilmuannya. Rumus demi rumus mampu dia tulis dengan lampu penerangan yang minim, bahkan juga dengan mata terpejam. Masyarakat Banjaran-pun patut berbangga. Namun demikian, moto padi makin berbuah makin menunduk harus tetap dipelihara. Semoga waktu cepat berlalu, dan gelar Doktor pun dapat tercetak di kartu nama, dan ilmunya dapat memberikan sesuatu yang berharga bagi bangsa dan negara, dan tentunya Banjaran.

 

Comments are closed.