Survey Post-Seismik Gempa Jogjakarta 2006

Dalam rangka penelitian post-seismic gempa Jogjakarta yang terjadi Pada pada tanggal 27 mei 2006 (dua tahun yang lalu), maka pada bulan Juli 2008, Kelompok Keilmuan Geodesi FITB ITB dalam program riset ITB mengadakan survey GPS. Pelaksanaan survey  melibatkan para mahasiswa teknik Geodesi dan Geomatika ITB, dan juga mahasiswa dari Universitas Gajah Mada (UGM), serta peneliti dari BPPTK Jogjakarta.  Pekerjaan lapangan dilakukan selama kurang lebih 10 hari dengan kegiatan antara lain memantau titik-titik benchmark yang tersebar di sekitar wilayah gempa Jogjakarta 2006 untuk melihat deformasi post-seismik. Penelitian Postseismic ini dilakukan sebagai upaya pembelajaran dan bahan bagi langkah penanganan potensi gempa di masa datang khususnya di wilayah Jogjakarta dan sekitarnya.

Berikut di bawah ini adalah dokumentasi hasil survey lapangan di daerah Jogjakarta dan sekitarnya.  Tim survey membawa peralatan GPS tipe Geodetik dual frekuensi Trimble 4000 SSI.  Areal survey mencakup wilayah Jogjakarta Kota, Bantul, Dringo, sampai ke Parangtritis. Total titik pengamatan yaitu sebanyak 30 lebih titik pantau.

jogja08a jogja08c jogja08e jogja08f

Fase post-seismic merupakan tahapan proses gempa bumi, dimana sisa-sisa energi gempa dilepaskan sampai tercapainya kesetimbangan baru sebagai permulaan cycle baru dari gempa bumi.  Pada tahap post-seismic ini sisa-sisa energi di lepaskan secara perlahan dalam kurun waktu yang lama (biasanya sifatnya aseismic) namun tetap menghasilkan deformasi secara permanen mencapai ukuran kurang dari satu meter atau bahkan lebih dari satu meter untuk gempa berkekuatan besar.

Data Geodetik yang diambil dari pengukuran GPS dapat mendokumentasikan tahapan Post-seismic ini dengan baik dan akurat.  Sebagai contoh hasil penelitian di Jepang memperlihatkan sinyal post-seismic gempa Sanriku (Mw 7.0) terekam dengan baik dari data GPS dan berlangsung sampai dengan 3 tahun.  Sementara itu post-seismic gempa Tokachi (Mw 8.0) berlangsung sekitar 6 tahun.  Untuk gempa yang berkekuatan besar seperti gempa Aceh 2004 (9.2 Mw), tahapan post-seismic ini mungkin dapat terjadi sampai sekitar 10 tahun lamanya, dan memberikan nilai deformasi dalam fraksi meter (Kimata, 2005)

Penelitian post-seismic menjadi penting dilakukan, termasuk di wilayah Jogjakarta, karena beberapa bukti menunjukkan deformasi yang terjadi selama proses post-seismic akan meningkatkan stress pada daerah-daerah sekitar gempa terdahulu, dimana peningkatan stress ini akan meningkatkan potensi kegempaan kedepannya.  Beberapa bukti di jepang malah menunjukkan mekanisme post-seismic telah memicu gempa-gempa yang baru.  Untuk itu apabila pola deformasi serta stress transfer dari post-seismic dapat diamati dengan baik, maka akan sangat berguna bagi evaluasi bencana gempa bumi di masa yang akan datang pastinya.

Berita Terkait