Survey Post-Seismic gempa bumi Pangandaran th 2006

Survey GPS dalam rangka penelitian Post-seismic gempa bumi Pangandaran 17 Juli 2006 lalu kembali dilaksanakan Kk Geodesi FITB ITB bersama LIPI dan Earthquake Research Institute Tokyo University Jepang pada awal bulan agustus 2008 kemarin.  Hal ini dilakukan Sebagai upaya pembelajaran bagaimana supaya kita dapat memahami lebih karakteristik kegempaan dan tsunami di sekitar Pantai Selatan Jawa, untuk selanjutnya dijadikan bahan bagi langkah penanganan potensi gempa bumi di masa yang akan datang khususnya di wilayah Pantai selatan Pangandaran, dan umumnya di deretan pantai selatan Jawa.

Berikut di bawah ini adalah dokumentasi hasil survey lapangan di daerah Pangandaran dan sekitarnya.  Tim survey membawa peralatan GPS tipe Geodetik dual frekuensi Trimble 4000 SSI.  Areal survey mencakup wilayah Pangandaran, Cimanuk, Cipatujah, Pameungpeuk, Kiara Payung, Cilacap, sampai dengan Kebumen. Total titik pengamatan yaitu kurang lebih sebanyak 30 titik pantau.

kk-geodesi08a pangandaran08b pangandaran08d pangandaran08c

Data Geodetik yang diambil dari pengukuran GPS dapat mendokumentasikan tahapan Post-seismic ini dengan baik dan akurat.  Sebagai contoh hasil penelitian di Jepang memperlihatkan sinyal post-seismic gempa Sanriku (Mw 7.0) terekam dengan baik dari data GPS dan berlangsung sampai dengan 3 tahun.  Sementara itu post-seismic gempa Tokachi (Mw 8.0) berlangsung sekitar 6 tahun.  Untuk gempa yang berkekuatan besar seperti gempa Aceh 2004 (9.2 Mw), tahapan post-seismic ini mungkin dapat terjadi sampai sekitar 10 tahun lamanya, dan memberikan nilai deformasi dalam fraksi meter (Kimata, 2005)

Fase post-seismic merupakan tahapan proses gempa bumi, dimana sisa-sisa energi gempa dilepaskan sampai tercapainya kesetimbangan baru sebagai permulaan cycle baru dari gempa bumi.  Pada tahap post-seismic ini sisa-sisa energi di lepaskan secara perlahan dalam kurun waktu yang lama (biasanya sifatnya aseismic) namun tetap menghasilkan deformasi secara permanen mencapai ukuran kurang dari satu meter atau bahkan lebih dari satu meter untuk gempa berkekuatan besar.

Sekarang data-data GPS hasil pengamatan di lapangan sedang diproses, untuk kemudian dilakukan analisis post-seismic yang terjadi pasca gempa bumi yang diiringi tsunami di daerah Pangandaran dan sekitarnya pada tahun 2006. Apabila pola deformasi serta stress transfer dari fase post-seismic dapat diamati dengan baik, maka akan sangat berguna bagi evaluasi bencana gempa bumi di masa yang akan datang. Beberapa bukti di jepang menunjukkan mekanisme post-seismic telah memicu munculnya gempa-gempa yang baru.

Berita Terkait