Pemantauan subsidence wilayah Semarang dengan GPS

Fenomena land Subsidence sudah banyak diteliti dan dilaporkan terjadi di wilayah Semarang.  Hasil beberapa penelitian memperlihatkan adanya bukti land subsidence terjadi di daerah Semarang secara signifikan. Bahkan bukti-bukti fisik dampak dari land subsidence seperti genangan banjir, ROB sudah dapat dilihat di beberapa wilayah di Semarang.  Kemungkinan besar faktor yang menjadi sebab terjadinya subsidence di Semarang ini karena pengambilan  air tanah yang berlebihan, disamping karena adanya efek konsolidasi dari lapisan tanah, dan efek lainnya.

Pemantauan land subsidenca atau penurunan tanah di wilayah Semarang dan sekitarnya menggunakan teknologi satelit GPS belum banyak dilakukan. Pada tahun 2008 ini, KK Geodesi FITB ITB bekerjasama dengan Kyoto University Jepang mulai melakukan survey GPS untuk pemantauan land subsidence di wilayah Semarang. Selain survai GPS juga dilakukan survei Gravity.  Berikut adalah beberapa dokumentasi survei di lapangan.

[metaslider id=1947]


GPS adalah sistem satelit navigasi dan penentuan posisi yang berbasiskan pada pengamatan satelit-satelit Global Positioning System (satelit GPS) [Abidin, 2000; Hofmann-Wellenhof et al., 1997]. Prinsip studi penurunah tanah dengan metode survei GPS yaitu dengan menempatkan  beberapa titik pantau di beberapa lokasi yang dipilih, secara periodik untuk ditentukan koordinatnya secara teliti dengan menggunakan metode survei GPS. Dengan mempelajari pola dan kecepatan perubahan koordinat dari titik-titik tersebut dari survei satu ke survei berikutnya, maka karakteristik land subsidence atau penurunan tanah akan dapat dihitung dan dipelajari lebih lanjut.

Seperti telah difaktakan di atas, fenomena land subsidence merupakan salah satu faktor yang cukup signifikan penyebab terjadinya banjir di suatu daerah atau kawasan. Ketika titik-titik yang mewakili suatu kawasan mengalami penurunan, yang menyebabkan daerah tersebut menjadi lebih rendah dari tempat-tempat lainnya (membuat cekungan), atau malah lebih rendah dari bentang hidrologi yang ada di sekitarnya, maka daerah tersebut akan menjadi daerah yang berpotensi banjir terutama ketika musim hujan tiba. Selain itu dampak dari land subsidence lainnya berupa kerusakan pada infrastrukur, bangunan, dan pembalikan sistem drainase, dan lain sebagainya.

Untuk memperoleh informasi land subsidence dari data GPS yang dilakukan oleh KK Geodesi beserta partner, maka tahun depan pada bulan yang sama akan dilakukan kembali survey GPS.  Nantinya hasil pengolahan data GPS dari periode sekarang dengan periode depan dapat memberikan besaran land subsidence di wilayah Semarang.  Diharapkan nantinya informasi land subsidence yang diperoleh dari penelitian ini akan bermanfaat bagi pihak-pihak terkait dalam hal antara lain penataan kota, regulasi pengambilan air tanah, penanganan banjir, dan lain-lain.

Berita Terkait