From Gimbal to Profesor …

Pada tahun 2007 yang lalu Doktor Hasanuddin Z Abidin diberi gelar Profesor, Guru Besar ITB di bidang Geodesi Satelit. Genap sudah perjalanan karir beliau dalam dunia akademik yang beliau rintis semenjak tahun 1978 ketika pertama kali memasuki perguruan tinggi di Institut Teknologi Bandung.  Sekarang ini beliau menjabat sebagai Ketua Kelompok Keilmuan Geodesi Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Institut Teknologi Bandung.  Bagaimana kita dapat mengikuti jejaknya??? Mungkin kita dapat menganalisisnya dari BBB misalnya (alias bibit bebet bobot, bukan-nya bukan bintang biasa ..itu mah Meli and the gank), atau dari gaya hidup sehari-hari,penampilan yang berkacamata, tipe rambut yang keriting, raport SD sampe SMA, sertifikat dari pelatihan-pelatihan, surat tilang, makanan sehari-hari, atau lain sebagainya. Namun dikarenakan kita tidak hidup berbarengan terus dengan beliau, karena kita bukan istrinya atau bukan anaknya, dan atau jelas sekali bukan pacar gelapnya.., maka cara meng-analisisnya mungkin dari analisis foto-foto beliau.  Nah, mari sejenak kita lihat runtutan foto-foto Pak Udin (panggilan akrab sehari-hari dari para rekan kerjanya Profesor Hasanuddin) di bawah ini:

hza-sma.thumbnail foto3.thumbnail hasanuddin.thumbnail hza-3x4.thumbnail gps-billiton02.thumbnail

Kalau kita lihat foto beliau di atas paling kiri,  jelas sekali pisan,  dari rambutnya beliau yang gimbal menunjukkan bahwa dia memang calon profesor…  Tinggal nunggu gimbalnya jadi putih jadi deh profesor.  Jelas sekali dia bukan komandan Aitarak dari atambua, atau komandan GAM wilayah Lamno, atau pentolan grup Soneta pimpinan bang Haji rhoma. Kalo kira-kira temennya Bob Marley juga bukan, karena beliau tidak tinggal di Jamaica, dan denger-denger selentingan beliau bukan termasuk penganut azas “no woman no cry”. Dari foto kedua paling kiri juga terlihat dengan jelas aura cikal bakal seorang Profesor. Meskipun rambut gimbalnya sudah berubah menjadi kumis dan jenggot, tapi ya itulah ciri seorang profesor. Tidak mungkin dengan penampilan seperti itu orang menyangka dia lulusan afganistan yang sempet menculik kru metro tv mutia dan budi. Kalau pun dia pergi ke afganistan mungkin untuk mempelajari peluncuran roket untuk meluncurkan satelite GPS ke orbit-nya; buktinya dia sekarang menjadi profesor di bidang geodesi satelit. Untuk foto berikut-berikutnya, clear banget deh, jelas pisan itulah seorang profesor..Kalo orang negro Amerika bilang..yu’re the man..

Jadi kesimpulannya mari kita gimbalkan rambut kita, dan belajar yang bener, tekun, rajin, ulet, pantang menyerah, semangat, telaten, berani prihatin, rendah hati, jujur, tawekal, sholeh,berbakti pada orang tua, patuhi rambu-rambu lalulintas, dan buang sampah organik di tempat sampah berwana biru, untuk anorganik di tempat sampah warna putih, maka bukan tidak mungkin kita bisa mengikuti jejak beliau.

Terlepas dari analisis berdasarkan foto di atas, yang lemah secara analisis statistik (susah untuk menentukan variansi covariansinya), kalau kita melihat kinerja beliau di kampus ITB, bagaimana beliau pagi-pagi sudah ada di kampus, kemudian pulang sering sekali sehabis magriban dulu di kampus, beliau tekun mengajar, aktif di berbagai organisasi, aktif di civitas akademika ITB, aktif di acara-acara keagamaan, serta banyak sekali melakukan penelitian yang dituangkan dalam publikasi-publikasi di jurnal internasional maupun nasional, dan juga telah mempresentasikan cukup banyak makalah di pertemuan-pertemuan ilmiah, baik yang bersifat internasional maupun nasional, maka gelar profesor bagi beliau sudah menjadi keharusan.

Pokoknya kita harus turut bangga dengan prestasi beliau. Beliau layak menjadi salah satu putra terbaik bangsa. Pokoknya kita bangga sekali, kita harus sanjung-sanjung soalnya kita sudah kurang ajar dengan membuat tulisan ini… Tapi kita yakin beliau tidak akan tidak berkenan, malah akan memberi proyek penelitian yang lebih banyak lagi, memberi proyek pengabdian yang banyak lagi, mungkin mengasih pinjaman buat nyicil rumah para asisten akademik..hehehe.

Berita Terkait