Survey GPS Land Subsidence Porong-Sept 2007

Tanggul penahan lumpur panas Lapindo Porong Sidoarjo kadang mengalami retak, kemudian menyebabkan lumpur meluber. Hal ini kuat dugaannya disebabkan oleh land subsidence yang masih terjadi disekitar semburan lumpur panas.  Secara teori hal ini dimungkinkan karena semburan lumpur panas masih terjadi sehingga efek kesetimbangan struktur bawah pemukaannya mungkin diikuti efek kompaksi dan seterusnya menyebabkan land subsidence di permukaan.  Tim KK Geodesi ITB kembali melakukan survey GPS Subsidence Porong pada tanggal 15 sampai dengan 21 september 2007 untuk melihat status terakhir land subsicence yang terjadi di daerah porong Sidoarjo dan sekitarnya.

Berikut di bawah ini adalah dokumentasi hasil survey lapangan di daerah semburan lumpur panas Lapindo Porong Sidoarjo.  Tim survey membawa peralatan GPS tipe Geodetik dual frekuensi Trimble 4000 SSI.  Areal survey mencakup perimeter 5-10 kilometer dari pusat semburan. Total titik pengamatan yaitu sebanyak 33 titik pantau.

porong002.JPG porong004.JPG porong005.JPG porong003.JPG

GPS adalah sistem satelit navigasi dan penentuan posisi yang berbasiskan pada pengamatan satelit-satelit Global Positioning System [Abidin, 2000; Hofmann-Wellenhof et al., 1997]. Prinsip studi land subsidence dengan metode survei GPS yaitu dengan menempatkan  beberapa titik pantau di beberapa lokasi yang dipilih di sekitar area yang diduga tempat terjadinya land subsidence, secara periodik atau pun kontinyu untuk ditentukan koordinatnya secara teliti dengan menggunakan metode survei GPS. Dengan mempelajari pola dan kecepatan perubahan koordinat dari titik-titik tersebut dari survei yang satu ke survei berikutnya atau hasil data kontinyu, maka karakteristik land subsidence akan dapat dihitung dan dipelajari lebih lanjut.

Menurut catatan terakhir daerah yang mengalami land subsidence di sekitar Porong telah mencapai radius sekitar 3 kilometer persegi dari pusat semburan lumpur panas. Rumah-rumah di sekitar jalan raya Porong banyak yang mengalami retak retak sebagai konsekuensi dari land subsidence. Belum dapat dipastikan kapan land subsidence akan berhenti seperti halnya lumpur panas yang terus muncul ke permukaan. Informasi dari nilai atau besaran land subsidence sebaiknya diketahui tiap waktu.  Hal ini akan bermanfaat dalam hal pembangunan infrastruktur di sekitar wilayah semburan lumpur panas Lapindo Porong Sidoarjo.  Sebagai contoh informasi land subsidence dapat digunakan sebagai dasar penempatan jalur baru pipa Pertamina, kemudian juga dapat dijadikan acuan dalam merancang jalur kereta api yang baru atau jalur TOL yang baru apabila kelak harus dibuat.

Berita Terkait