Survey GPS Land subsidence LUSI – Juni 2007

Tanggul penahan lumpur panas Lapindo Porong Sidoarjo di bangun semakin tinggi setiap harinya.  Semburan Lumpur Panas pun masih terus terjadi setiap harinya, volume luapan lumpur makin besar, dan tanda-tanda yang jelas akan berhentinya semburan belum terlihat entah sampai kapan. Seiring dengan semburan lumpur panas yang terus menerus terjadi, fenomena land subsidence turut menyertai.  Dulu orang banyak yang tidak percaya subsidence terjadi di Porong. Namun waktu telah membuktikan fenomena land subsidence tersebut nyata-nyata terjadi dan bahkan sekarang ini telah meluas areanya.  Tim KK Geodesi FTSL yang mewakili LAPI ITB kembali melakukan survey GPS Subsidence Porong pada pertengahan bulan juni 2007 untuk melihat status terakhir land subsicence yang terjadi di daerah porong dan sekitarnya.

Berikut di bawah ini adalah dokumentasi hasil survey lapangan di daerah semburan lumpur panas Lapindo Porong Sidoarjo.  Tim survey membawa peralatan GPS tipe Geodetik dual frekuensi Trimble.  Areal survey diperluas sampai perimeter 5-10 kilometer dari pusat semburan karena terindikasi daerah subsidence juga kian meluas. Total titik pengamatan yaitu sebanyak 33 titik pantau.

lusi01.JPG lusi03.JPG lusi05.JPG lusi04.JPG

GPS adalah sistem satelit navigasi dan penentuan posisi yang berbasiskan pada pengamatan satelit-satelit Global Positioning System [Abidin, 2000; Hofmann-Wellenhof et al., 1997]. Prinsip studi land subsidence dengan metode survei GPS yaitu dengan menempatkan  beberapa titik pantau di beberapa lokasi yang dipilih di sekitar area yang diduga tempat terjadinya land subsidence, secara periodik atau pun kontinyu untuk ditentukan koordinatnya secara teliti dengan menggunakan metode survei GPS. Dengan mempelajari pola dan kecepatan perubahan koordinat dari titik-titik tersebut dari survei yang satu ke survei berikutnya atau hasil data kontinyu, maka karakteristik land subsidence akan dapat dihitung dan dipelajari lebih lanjut.

Hasil survey terakhir memperlihatkan daerah yang mengalami land subsidence di sekitar Porong telah mencapai radius sekitar 3 kilometer persegi dari pusat semburan lumpur panas.  Nilai rata-rata penurunan di sekitar daerah lokasi semburan mencapai 2-3 sentimeter perhari.  Sementara itu di areal sekitar 2-3 kilometer subsidence meskipun tidak terlalu besar namun di beberapa titik mencapai sekitar 3-6 sentimeter per-bulan.  Data untuk areal perimeter 5-10 kilometer sekarang ini sedang di olah oleh tim KK Geodesi. Rumah-rumah di sekitar jalan raya Porong kini telah mulai mengalami retak retak sebagai konsekuensi dari land subsidence.  Pipa Pertamina yang dibangun melintasi daerah semburan lumpur panas kini juga telah terimbas oleh efek subsidence.  Tiang-tiang penyangga (support) pipa telah banyak yang ambles (tenggelam dalam lumpur) dan  hampir sekitar 90 persen pipa kini telah mengapung di atas lumpur panas.

Entah sampai kapan land subsidence akan berhenti seperti halnya lumpur yang terus muncul ke permukaan. Informasi dari nilai atau besaran land subsidence sebaiknya diketahui tiap waktu.  Hal ini akan bermanfaat dalam hal pembangunan infrastruktur di sekitar wilayah semburan lumpur panas Lapindo Porong Sidoarjo.  Sebagai contoh informasi land subsidence dapat digunakan sebagai dasar penempatan jalur baru pipa Pertamina, kemudian juga dapat dijadikan acuan dalam merancang jalur kereta api yang baru atau jalur TOL yang baru apabila kelak harus dibuat.

Berita Terkait