Survey GPS land Subsidence Porong Sidoarjo-Mei 2007

Semburan Lumpur Panas Lapindo Porong Sidoarjo masih terus terjadi, volume luapan lumpur makin besar, dan tanda-tanda yang jelas akan berhentinya semburan belum terlihat entah sampai kapan.  Luapan lumpur kini telah mencapai jalan kereta api porong, dan bahkan jalan utama porong sidoarjo. Seiring dengan semburan lumpur panas yang terus terjadi, fenomena land subsidence turut menyertai.  Dulu orang banyak yang tidak percaya subsidence terjadi di Porong. Namun waktu telah membuktikan fenomena land subsidence tersebut nyata-nyata terjadi dan bahkan sekarang ini telah meluas areanya.  Tim KK Geodesi FTSL yang mewakili LAPI ITB kembali melakukan survey GPS Subsidence Porong pada awal bulan mei 2007 untuk melihat status terakhir land subsicence yang terjadi di daerah porong.

Berikut di bawah ini adalah dokumentasi hasil survey lapangan di daerah semburan lumpur panas Lapindo Porong Sidoarjo.  Tim survey membawa peralatan GPS tipe Geodetik dual frekuensi Trimble dan Topcon.  Areal survey diperluas karena terindikasi daerah subsidence juga kian meluas.

gps-porong01.JPG gps-porong02.JPG gps-porong03.jpg gps-porong04.JPG gps-porong05.jpg

GPS adalah sistem satelit navigasi dan penentuan posisi yang berbasiskan pada pengamatan satelit-satelit Global Positioning System [Abidin, 2000; Hofmann-Wellenhof et al., 1997]. Prinsip studi land subsidence dengan metode survei GPS yaitu dengan menempatkan  beberapa titik pantau di beberapa lokasi yang dipilih di sekitar area yang diduga tempat terjadinya land subsidence, secara periodik atau pun kontinyu untuk ditentukan koordinatnya secara teliti dengan menggunakan metode survei GPS. Dengan mempelajari pola dan kecepatan perubahan koordinat dari titik-titik tersebut dari survei yang satu ke survei berikutnya atau hasil data kontinyu, maka karakteristik land subsidence akan dapat dihitung dan dipelajari lebih lanjut.

Hasil survey terakhir memperlihatkan daerah yang mengalami land subsidence di sekitar Porong telah mencapai radius sekitar 3 kilometer persegi dari pusat semburan lumpur panas.  Nilai rata-rata penurunan di sekitar daerah lokasi semburan mencapai 2-3 sentimeter perhari.  Sementara itu di areal terluar zona subsidence dapat mencapai sekitar 4-6 sentimeter per-bulan.  Rumah-rumah di sekitar jalan raya Porong kini telah mulai mengalami retak retak sebagai konsekuensi dari land subsidence.  Pipa Pertamina yang dibangun melintasi daerah semburan lumpur panas kini juga telah terimbas oleh efek subsidence.  Bagian penyangga Pipa tercatat mengalami penurunan.

Entah sampai kapan land subsidence akan berhenti seperti halnya lumpur yang terus muncul ke permukaan, informasi dari nilai atau besaran land subsidence sebaiknya diketahui tiap waktu.  Hal ini akan bermanfaat dalam hal pembangunan infrastruktur di sekitar wilayah semburan lumpur panas Lapindo Porong Sidoarjo.  Sebagai contoh informasi land subsidence dapat digunakan sebagai dasar penempatan jalur baru pipa Pertamina, kemudian juga dapat dijadikan acuan dalam merancang jalur kereta api yang baru apabila kelak harus dibuat.

Berita Terkait