Pemantauan Deformasi Pipa Gas Pertamina di Lusi Porong

Pipa Gas milik Pertamina di sekitar jalan Tol Porong Sidoarjo (KM 38) pecah dan kemudian menimbulkan ledakan, dan berakhir dengan munculnya korban jiwa.  Hal ini terjadi beberapa bulan setelah terjadinya semburan lumpur panas (lusi : Lumpur Sidoarjo) di daerah Porong Sidoarjo yang kebetulan dekat dengan jalur Pipa Gas pertamina tersebut.  Berbagai perkiraan, asumsi, dan spekulasi muncul berkaitan dengan apa penyebab terjadinya ledakan pipa gas Pertamina tersebut.  Satu pihak menyebutkan suhu panas lumpur dan akibat beban tanggul yang ditambah efek sliding menyebabkan pipa tersebut pecah.  Pihak lainnya menambahkan bahwa subsidence di daerah Porong turut menjadi penyebab terjadinya ledakan tersebut.  Satu kata penyebab terjadinya ledakan belum ada sampai sekarang.

Terlepas dari itu semua, pasokan gas dari Pertamina ke clien-nya (diantaranya ke PT Semen Gresik) menjadi terhambat. Untuk mengatasi masalah tersebut maka Pertamina melakukan langkah pemasangan kembali jalur Pipa disekitar bekas ledakan dan tetap melewati daerah semburan lumpur panas sebagai upaya jangka pendek dan menengah, sementara itu untuk jangka panjangnya sedang dilakukan studi jalur baru. Jalur pipa jangka pendek dibuat di atas permukaan melewati rute yang sama di samping semburan lumpur panas. Mengingat fakta bencana ledakan yang telah terjadi, maka pemasangan jalur pipa ini menjadi sarat potensi bencana.  Menyadari akan hal itu maka pertamina melakukan pemantauan deformasi pipa dan stres analisis bekerjasama dengan pihak dari Institut Teknologi Bandung.

Untuk pemantauan deformasi pipa gas digunakan alat GPS dan juga Total Station.  Beberapa titik pipa dipantau dengan GPS menggunakan metoda survey statik, kemudian juga dipasang prisma untuk dipantau oleh Total Station.  Berikut di bawah ini dapat dilihat hasil dokumentasi kegiatan pemantauan deformasi pipa gas Pertamina tersebut.

pipa-porong01.JPG pipa-porong02.JPG pipa-porong05.JPG pipa-porong04.JPG

Bersamaan dengan peresmian dan pengoperasian kembali jalur Pipa gas tersebut, maka kegiatan pemantauan pun turut dilaksanakan.  Tim pemantau mengambil data tiap hari siang dan sore.  Data-data kemudian diolah dan dilihat apakah betul terjadi deformasi, kemudian mencari berapa besarnya deformasi yang terjadi.  Ternyata deformasi terbukti terjadi pada jalur pipa gas tersebut, baik untuk komponen horisontal maupun komponen vertikal-nya.

Satu minggu setelah pemantauan, nilai deformasi sudah masuk fraksi desimeter untuk komponen vertikal, sementara komponen horisontal terjadi beberapa sentimeter. Perubahan fisik konstruksi pipa juga terlihat dilapangan dengan adanya peregangan antara pipa dengan beberapa penopangnya. Sementara itu lumpur panas turut menggenangi beberapa segmen jalur pipa.  Melihat kondisi ini, pihak Pertamina akhirnya terpaksa melakukan sut-down suply gas untuk sementara setelah sekitar sepuluh hari beroperasi. Saat sedang dilakukan kajian intensif terhadap data-data, dan tentunya melanjutkan pemantauan secara lebih intensif.

Berita Terkait