SD di Kawali dan TO di Cimalaka Sumedang

Seperti biasa ketika tim KK Geodesi melakukan survey lapangan, baik rekonesan atau pun survey pengamatan GPS, selalu dibarengi dengan wisata kuliner.  Kalau teh Titi Kamal bilang disaat sela-sela kesibukan shooting sinetron dia selalu nyempetin makan mie sedap, para anggota KK Geodesi disaat sela-sela kesibukan survey lapangan akan selalu menyempatkan diri makan apa saja yang ada disekitarnya, baik makanan bergizi, kurang bergizi, yang sudah matang, atau pun yang masih mentah (seperti lalab dan dedaunan lainnya) dan yang jelas bukan makanan yang dikategorikan haram oleh MUI.

Ketika melakukan rekonesan survey GPS untuk penelitian aktivitas sesar Baribis yang dilakukan selama 2 hari, hari pertama perjalanan dilakukan dari kampus ITB pertama-tama menuju Sumedang.  Sudah dipastikan ketika sampe di Sumedang maka selain mencari titik GPS, juga mencari tahu Sumedang (..emang sumedang itu apaan yah sampe harus dicari tahu? Eit bukannya mencari tahu apa itu Sumedang, tapi mencari Tahu Sumedang. Atau arti lainnya kita harus tahu di Sumedang itu ada tahu yang harus dicari tahu). Ketika selesai dari Sumedang perjalanan dilanjutkan melalui Wado, Bangbayang, Panjalu, Kawali, dan terus ke Cikijing, Majalengka, Kadipaten, Cirebon, dan hari pertama berakhir di Kuningan.

Ketika sampai di Kawali, perut tim survey mulai keroncongan. Setelah titik GPS ditemukan di Kawali, upaya berikutnya jelas mencari tempat makan. Setelah puter-puter alun-alun Kawali akhirnya ditemukanlah rumah makan yang menyediakan sajian SD alias SOD DENGKUL. Wow! baru kali ini tim menemukan sajian sop dengkul. Dengan tanpa tendeng aling-aling akhirnya..bu, sop dengkul lima! dan datanglah sajian sop dengkul tersebut. Kemudian setelah dicoba..mmm..rasanya megang banget kalo kata teh Titi kamal! Kalo bung Bondan pasti akan berkata..Maknyoss!! kalo kata tim survey..mmm..boleh boleh..keren..keren…

Hari kedua rekonesan dimulai dari kota Kuningan ke arah tenggara menuju desa Buni Geulis, Cageur, Subang, Pamulihan, sela Jambe, Rancah, kembali ke Cikijing, Maja, Majalengka, Kadipaten, Cimalaka, Sumedang, dan berakhir di Bandung lagih. Makan malam sudah direncanakan di Cimalaka di rumahnya Pak Ony anggota tim survey. Sekitar jam 8 malem tim tiba di rumahnya Pak Ony. Hanya berselang beberapa saat, di teras panggung makanan sudah tersaji berupa hidangan TO alias TUTUG ONCOM dan Nila Goreng lengkap dengan sambel khas-nya. Memang bawaannya sudah lapar, ketika melihat sajian itu…mmm…ngiler abisz.. Untuk jelasnya sajian menu sudah didokumentasikan seperti terlihat di bawah ini.

wisata04.JPG wisata02.JPG wisata03.JPG wisata08.JPG

Ketika pertama tutug omcom dan nila goreng di cicipi…gilaaaa!!! enak pisan siah!! beneran teu bohong!!!  mantap men..teh Titi Kamal pasti bilang..delapan..eh..gak denk..sepuluhhhh!!! Om Bondan dapat dipastikan untuk bilang edaaannn…maknyoss.  Preman ti Banjaran pasti bilang anjirrr edan ngeunah pisan!!!  Sementara itu preman nyong ambon dan Papua akan bilang..ala mama, ni tutug oncom so enak sekali..beta minta tambah-tambah!!

Tim survey sangat menikmati sajian hidangan tutug oncom dan nila goreng tersebut.  hal ini dapat terlihat dari muka-muka penuh antusias dan ekspresi riang para tim survey sepanjang acara santapan makan malam seperti yang dapat dilihat pada gambar dokumentasi di bawah.  Salah satu anggota tim survey mengemukakan rasa nila gorengnya sempurna. Kualitas nilanya sepertinya standar ekspor.  Kolam nila menggunakan air yang komponen salinitasnya sempurna. Mungkin juga suhu, dan juga pola arus kolam didesain sedemikian rupa sehingga menghindari abrasi disekitar sisi kolam yang dapat mengakibatkan ikan nila bau tanah. Ya sudah-lah jangan dibahas..terlalu aneh.

wisata05.JPG wisata07.JPG wisata06.JPG wisata01.JPG

Acara santapan malam ditutup dengan doa syukur atas kenikmatan yang telah diberikan, dilanjutkan dengan acara SMP alias Sudah Makan Pulang.  Dasaarr tim survey yang sudah cape mungkin, jadi dimaklumi untuk melakukan acara SMP tersebut.  Sebelum pulang tim survey sempat bercengkrama dengan si bibi yang memasak TO dan nila tersebut, serta menanyakan rahasia-rahasia kenikmatan sajian tersebut.  Si bibi sempat di tawarin untuk pindah ke Bandung saja dan buka restoran bareng-bareng aja dengan KK Geodesi. Tetapi tim terlupa, bahwa masih ada urusan untuk melakukan survey lapangan meneliti aktivitas sesar Baribis menggunakan teknologi GPS. Jadi untuk sementara acara buka restoran di pending dulu sampai batas waktu yang tidak ditentukan.

Berita Terkait