Cermin Keberadaan Benchmark Titik Kontrol Nasional

Bentuk fisik realisasi dari suatu sistem koordinat adalah dengan dibuatnya suatu kumpulan benchmark/tugu/monumen/peil yang tersebar dalam spacing tertentu disesuaikan dengan kebutuhan. Di negara kita dikenal Jaringan titik Kerangka Dasar Nasional (horisontal) orde 0,orde 1 (yang dikelola oleh Bakosurtanal ), orde 2,3, dan 4 (yang dikelola oleh BPN). Karena titik benchmark ini sifatnya harus tetap dan terjaga keberadaannya,serta dapat dimanfaatkan dari waktu ke waktu maka titik-titik benchmark ini harus ditempatkan di tempat yang aman.  Namun apa yang terjadi dilapangan saat ini, banyak tugu yang rusak, hilang, atau tidak dapat digunakan lagi, seperti contoh yang dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

tugu01.JPG tugu02.JPG tugu03.JPG tugu05.JPG

Gambar atas dari kiri ke kanan masing-masing memperlihatkan tugu yang ditempatkan di pematang sawah dan sudah tertimbun dengan tanah, tugu yang kini berada di pojok rumah, tugu yang titik sentering-nya sudah hilang, dan terakhir yaitu tugu yang berada di bawah atap rumah.  Tugu yang tetimbun dengan tanah seolah hilang, dan orang survey mungkin tidak akan menggunakannya lagi, karena susah untuk mengetahui keberadaannya.  Tugu yang kini berada dipojokan rumah akan menyulitkan untuk memasang alat ukur, terutama alat GPS yang tidak memungkinkan untuk mengamati sinyal satelit dengan baik. Sementara itu, meski tugunya masih terlihat baik, didaerah yang terbuka, namun akan terjadi kesulitan dalam dilakukannnya pengukuran apabila titik sentring-nya telah hilang akibat dirusak orang.  Terakhir apabila kita lihat tugu yang berada di bawah atap rumah atau bangunan, maka akan menyulitkan untuk melakukan pengamatan GPS untuk kepentingan survey dan pemetaan.

Selain kerusakan benchmark/tugu yang dicontohkan dengan gambar di atas, hasil lain dari inventarisasi memperlihatkan bentuk kerusakan tugu lainnya berupa tugu miring akibat tertabrak kendaraan, tugu yang brass tablet kuningan tempat sentring-nya hilang karena ada yang mengambil, tugu sudah berpindah tempat dari yang dahulu pertama kali dipasang, tunggu kini berada di bawah pohon yang sangat rindang yang tidak memungkinkan pengamatan dengan GPS, dan masih banyak contoh-contoh kerusakan tugu lainnya. Cerminan dari keberadaan tugu/bencmark titik kontrol nasional yang rusak atau kurang laik pada saat ini meskipun terlihat seperti hal sepele bagi orang awam, namun sebenarnya cukup terbilang memprihatinkan bagi implementasi pekerjaan dunia survey dan pemetaan.

Keberadaan tugu-tugu tersebut sangatlah penting bagi proses pemetaan. Mungkin orang awam yang karena minimnya sosialisasi tidak mengerti pentingnya tugu tersebut dan malah merusaknya, dapat dimaklumi, namun justru yang menjadi pertanyaan mengapa para kontraktor dan pihak yang berkepentingan membuat tugu/benchmark sepertinya belum secara maksimal menempatkan tugu di tempat yang seharusnya.  Menurut spesifikasi teknis tugu diantaranya diutamakan untuk ditempatkan di sarana-sarana pemerintahan seperti kantor desa, sekolah-sekolah yang memungkinkan keberadaannya dari waktu ke waktu akan terjaga dengan baik, namun ternyata masih banyak tugu yang ditempatkan di pematang sawah atau di pinggir jalan yang lambat laun dapat rusak atau hilang begitu saja. Selain itu keberadaan tugu yang disaratkan untuk dapat dimanfaatkan oleh teknologi GPS malah keberadaannya dibawah pohon rindang, atau atap kantor sehingga tidak memungkinkan untuk dapat melakukan pengamatan sinyal dari satelit GPS dengan baik.

Siapa yang patut disalahkan? Pastinya susah untuk menuduh pihak-pihak mana yang patut disalahkan,atau yang musti bertanggung jawab atas permasalahan ini. Jalan yang terbaik kiranya untuk kembali bersama-sama membereskan permasalah tugu/benchmark ini. Mungkin kiranya akan lebih baik apabila lembaga pemerintah yang bertanggung jawab akan pengadaan tugu titik kontrol ini untuk lebih mengontrol/melaksanakan QA/QC dalam pelaksanaan pengadaan tugu oleh pihak kontraktor misalnya.  Kemudian kompetensi dari pihak kontraktor harus ditingkatkan dengan jalan sertifikasi atau sejenisnya. Peranan lembaga edukasi juga seyogyanya ditingkatkan untuk membantu meningkatkan kompetensi bagi pihak-pihak profesional yang ada.  Sementara itu tugu-tugu yang sekarang ini telah rusak harus mulai dipikirkan solusinya untuk diperbaiki.

Berita Terkait