Survey Pemodelan Geoid Lokal Kampus ITB

Pada hari selasa tanggal 13 februari 2007 dilaksanakan pengukuran GPS dan pengukuran sebagian titik/benchmark menggunakan waterpas di sekitar kampus ITB, dalam rangka penelitian KK Geodesi untuk membuat model geoid lokal kampus ITB, yang nantinya digunakan untk membantu pelaksanaan praktikum perkuliahan geodesi, kajian geoid, data pembantu tugas akhir, dan lain lain. Metoda pengukuran GPS adalah metode Statik Survey.  Sebanyak 8 titik/benchmark diamati menggunakan receiver GPS selama 3-4 jam untuk memperoleh akurasi tinggi GPS yang baik (sekitar 1-2 sentimeter).  Nantinya hasil GPS ini akan dikombinasikan dengan hasil Leveling waterpass untuk memperoleh model geoid lokal.  Seperti diketahui, ketelitian tinggi GPS adalah sekitar tiga kali lebih jelek dari ketelitian horisontalnya. Di bawah ini adalah dokumentasi pengambilan data di lapangan.

gps3-c.jpg gps2-b.jpg itb47-a.jpg itb39-a.jpgitb23-a.jpg

Kegiatan pengukuran GPS dan Waterpass melibatkan mahasiwa geodesi geomatika FTSL ITB serta anggota KK Geodesi. Peralatan survey yang digunakan diantaranya GPS tipe geodetik dual frekuensi merk TRIMBLE 4000 SSI dan Leica seri9500.  Pengolahan data sementara ini sedang dilakukan dengan menggunakan software Bernese versi 5.0.  Setelah data hasil pengolahan GPS yang memberikan tinggi ellipsoid didapat, lalu menggabungkannya dengan tinggi ortometrik menggunakan pertitungan matematik selanjutnya dapat diperoleh Undulasi geoid dan pemodelan geoid lokal Kampus ITB. Aplikasi dari model geoid lokal ini yaitu contohnya untuk penggunaan teknik GPS Leveling.

Konsep Pemodelan Geoid Lokal dan teknik GPS-Leveling.

Istilah Sistem Referensi Koordinat, secara singkat sering disebut sistem koordinat, adalah sistem yang digunakan dalam pendefinisian koordinat dari suatu titik dalam ruang. Sedangkan istilah Kerangka Referensi koordinat adalah realisasi praktis dari Sistem Referensi Koordinat, sehingga sistem ini dapat digunakan untuk mendeskripsikan secara kuantitatif posisi titik-titik, baik dipermukaan bumi atau pun di luar bumi.  Kerangka referensi tersebut biasanya direalisasikan dengan melakukan pengamatan-pengamatan geodetik, dan umumnya direpresentasikan dengan menggunakan suatu kumpulan benchmark/tugu/patok/monumen yang tersebar dalam spacing tertentu disesuaikan dengan kebutuhan. Selanjutnya kerangka referensi koordinat dalam implementasinya ada yang membaginya menjadi dua yaitu kerangka dasar horisontal dan kerangka dasar vertikal.  Referensi dari kerangka dasar vertikal diantaranya adalah geoid, MSL, dan ellipsoid.

Dalam survey dan rekayasa, sistem referensi tinggi yang digunakan biasanya berupa geoid, atau MSL, yang merupakan pendekatan dari geoid.  Untuk mendapatkan geoid maka harus dilakukan pengukuran gaya berat, dan atau juga pengukuran sipat datar teliti.  Teknik GPS hanya memberikan koordinat tinggi dalam sistem tinggi ellipsoid.  Namun apabila ada model geoid, maka dengan pengukuran GPS ditambahkan dengan model geoid tersebut maka kita dapat memperoleh tinggi di atas geoid.  Teknik seperti ini disebut GPS-Leveling. Survey pemodelan geoid lokal Kampus ITB yang di lakukan di atas tersebut bertujuan untuk mendapatkan model geoid lokal yang akan membantu GPS dalam melakukan pengukuran tinggi.  Sehingga, tanpa harus melakukan pengukuran sipat datar, koordinat tinggi dalam sistem geoid juga bisa dilakukan dengan hanya melakukan pengukuran GPS teliti.

Berita Terkait