Penelitian Bukti Fisik efek Subsidence di Porong

Semburan lumpur panas dari bawah permukaan bumi ke atas permukaan bumi telah terjadi di daerah Porong Sidoarjo Jawa Timur (Sekitar 20 kilometer sebelah selatan Surabaya). Semburan ini terjadi ketika PT Lapindo melakukan eksplorasi gas dan minyak bumi dengan melakukan pemboran di daerah Porong tersebut.  Akibat dari semburan lumpur yang terus menerus dengan volume yang cukup besar maka telah menimbulkan luapan dan genangan lumpur di sekitar daerah Porong.  Selain itu akibat dari semburan lumpur yang terus menerus juga memungkinkan terjadinya land subsidence di daerah tersebut. Subsidence dimungkinkan terjadi karena proses kompaksi dari kekosongan pori dalam struktur bawah permukaan karena materi lumpur meluap ke atas permukaan.

Ketika dilakukan pemantauan dengan menggunakan GPS, ternyata terbukti bahwa telah terjadi land subsidence di sekitar daerah Porong akibat dari semburan lumpur yang terjadi disana.  Namun demikian banyak pula kalangan, termasuk para ahli yang meragukan telah terjadinya land subsidence di daerah tersebut.  Mungkin keraguan cukup beralasan, mengingat fisik land subsidence sulit dilihat dengan kasat mata. Salah satu bukti yang dapat memperkuat terjadinya land subsidence, yaitu dengan melihat efek yang ditimbulkan oleh land subsidence berupa kerusakan pada fisik bangunan, pembalikan pola arah drainase, genangan banjir, dan lain-lain. Selanjutnya untuk memperkuat bukti subsidence yang diperlihatkan GPS, maka KK Geodesi melakukan penelitian bukti fisik efek land subsidence di sekitar daerah Porong.

Program penelitian bukti fisik efek dari land subsidence ini dilakukan KK Geodesi bersamaan dengan program pemantauan land subsidence itu sendiri dengan menggunakan teknologi GPS.  Tempat tempat yang diduga terdapat bukti fisik efek land subsidence mengacu pada pola subsidence yang ada yaitu di sekitar Kedung Bendo, Tanggul Angin, Reno Kenongo, dan juga disekitar Jalan Tol Porong Sidoarjo km 36 – 39. Bulan agustus dan oktober 2006 tim melakukan penelitian di lapangan.  Dan hasilnya memang terlihat bukti-bukti fisik land subsidence di beberapa tempat di sekitar luapan lumpur Porong.

Di bawah ini adalah gambar-gambar bukti fisik efek land subsidence yang di temukan di sekitar daerah Kedung Bendo, dekat dengan jalan Tol Siring, berupa kerusakan pada bangunan (tembok retak-retak, lantai retak-retak memanjang, lantai yang terbelah, dan kerusakan lainnya). Menurut masyarakat sekitar, kerusakan mulai terlihat sekitar sebulan setelah terjadinya semburan lumpur panas.

bndo01.JPG bndo02.JPG bndo03.JPG bndo04.JPG

Di bawah ini adalah gambar-gambar bukti fisik efek land subsidence yang di temukan di sekitar daerah Reno Kenongo, dan Tanggul Angin, berupa kerusakan pada bangunan (tembok retak-retak, lantai retak-retak memanjang, lantai yang terbelah, dan kerusakan lainnya). Menurut masyarakat sekitar daerah tersebut, kerusakan mulai terlihat sekitar sebulan setelah terjadinya semburan lumpur panas.

kenongo01.JPG kenongo02.JPGkenongo03.JPG kenongo04.JPG tgangin01.JPG

Selain kerusakan pada bangunan, dilaporkan oleh pihak RT RW setempat di Tanggul Angin, bahwa telah terjadi pembalikan arah saluran selokan.  Arah saluran ketika di tilik menjadi mengarah ke tempat dimana semburan lumpur berada. Bukti-bukti ini cukup jelas membuktikan bahwa telah terjadi land subsidence di sekitar wilayah semburan lumpur Lapindo Porong. Orang-orang konstruksi masih bertanya mengapa tidak terlihat kerusakan pada properti TOl yang terletak dengan semburan? Hal ini disebabkan karena building code nya yang masih memungkinkan tahan terhadap land subsidence pada taraf tertentu. Dan lambat laun akhirnya kita bisa juga melihat terjadinya keretakan di sekitar jembatan TOL Siring Kilometer 38, dan juga di sambungan antar jalan jembatan TOl di kilometer 37.

Kejadian ledakan Gas Pipa Pertamina di Kilometer 38 Jalan TOl Porong Sidoarjo juga besar kemungkinan akibat efek dari land subsidence.  Sudah begitu banyak catatan kerusakan yang diakibatkan oleh semburan lumpur melalui efek land subsidence yang harusnya menjadi perhatian bagi pihak-pihak terkait yang bertanggung jawab.  Masyarakat jangan dibiarkan memikul beban sendiri atas apa yang terjadi.  Sungguh ironis ketika pihak yang bertanggung jawab hanya mau mengurusi tuntutan kerugian bagi yang terkena dampak langsung luapan lumpur.  Padahal dampak tidak langsungnya juga begitu besar.  Kemudian sungguh ironis juga masih ada pihak-pihak yang tidak percaya land subsidence telah terjadi di Porong.  Apakah mereka baru percaya ketika terjadi amblesan tanah secara masif seperti sinkhole atau fissures?

 

Berita Terkait