Pemantauan deformasi gunungapi Kelut dengan GPS

GUNUNGAPI KELUT JAWA TIMUR

Gunungapi Kelut adalah gunungapi strato aktif yang mempunyai danau kawah di puncaknya. Gunungapi ini terletak di dalam tiga wilayah kabupaten, yaitu Kab. Kediri, Kab. Blitar, dan Kabupaten Malang di propinsi Jawa Timur. Ketinggian puncak dan danau kawahnya adalah masing-masing sekitar 1731 m dan 1114 m di atas permukaan laut. Pada awalnya danau kawah gunung Kelut berisi 38 juta m3 air, dan sesudah dialirkan melalui terowongan Ampera volumenya menjadi sekitar 4.5 juta m3 air.

kelud10.JPG kelud02.jpgkelud01.jpg indonesia1-059.jpg

Cara pencapaian ke gunungapi kelut dapat dilakukan dengan kendaraan bermotor adalah dari Kediri menuju ke Wates dilanjutkan ke Margomulyo, Bambingan hingga ke Jurang Gelap atau gunung Pedot. Dari Jurang gelap hingga tepi danau kawah ditempuh dengan berjalan kaki.

Selain memberikan dampak bencana, keberadaan dari gunungapi Kelut juga memberikan manfaat positif. Manfaat tersebut dapat ditinjau dari beberapa aspek, antara lain aspek wisata, budaya maupun ekonomi. Aspek wisata berkaitan dengan bentuk pengembangan dan pemanfaatan nilai-nilai alam, misalnya wisata alam dan agrowisata yang mengembangkan kawasan perkebunan di sekitar Kelut dan hutan di sepanjang jalan menuju kawah serta wisata alam di daerah sekitar kawah.

Aspek budaya dapat dilihat dari peninggalan purbakala berupa candi-candi yang terdapat di daerah Blitar dan Kediri. Keberadaan candi-candi tersebut berkaitan dengan perkembangan sejarah dan budaya Jawa pada masa kejayaan kerajaan-kerajaan Hindu seperti Jenggala, Kediri dan Singasari. Pada perkembangan selanjutnya, beberapa candi di daerah sekitar G. Kelut telah terpendam akibat dari bencana lahar dan letusan dari G. Kelut, mengikuti surutnya masa keemasan kerajaan tersebut. Kini masih banyak peninggalan arkeologi yang masih perlu digali dan dipelajari.

Aspek ekonomi, letusan dan lahar menghasilkan material pasir dan batu yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat di sekitarnya sebagai bahan galian golongan C untuk bahan  bangunan. Eksploitasi bahan galian ini bisa menyerap cukup banyak tenaga kerja di pedesaan, di luar sektor pertanian dan perkebunan.

—————————————————————————————————————————————————

Catatan sejarah letusan gunungapi Kelut

Dalam sejarahnya, gunungapi Kelut sudah kerap meletus. Letusan yang tercatat adalah mulai tahun 1000 dan yang terakhir pada tahun 1990. Letusan-letusan yang tercatat menimbulkan korban adalah : pada tahun 1586 menelan korban sekitar 10.000 jiwa, tahun 1919 menelan korban sekitar 5160 jiwa, tahun 1951 sebanyak 7 korban jiwa, dan tahun 1966 menelan 210 korban jiwa. Letusan terakhir adalah pada tanggal 10 Februari 1990 dengan 34 korban jiwa. Pada pertengahan Januari 2001, suhu air kawah gunung Kelut meningkat menjadi 510C dari suhu normalnya berkisar sekitar 37-380C. Peningkatan suhu sebenarnya sudah dimulai sejak November 2000; tapi peningkatan secara drastis baru mulai 19 Januari 2001.

—————————————————————————————————————————————————

Pemantauan aktivitas vulkanis gunungapi di gunung Kelut

Di Indonesia, mengingat jumlah gunungapi nya yang relatif cukup banyak, bahaya letusan gunungapi harus mendapatkan perhatian yang serius baik dari pemerintah maupun masyarakat. Indonesia mempunyai 129 gunungapi aktif serta 271 buah titik erupsi yang merupakan konsekuensi dari interaksi dan tumbukan antara beberapa lempeng benua. Dengan jumlah penduduk sekitar 200 juta, dan juga kenyataan bahwa Pulau Jawa yang penduduknya paling padat juga mempunyai gunungapi yang paling banyak, maka tidak dapat dipungkiri bahwa bahaya letusan gunungapi adalah sesuatu yang nyata bagi rakyat Indonesia. Menurut [Katili & Siswowidjojo, 1994], sekitar 10% penduduk Indonesia tinggal di wilayah yang terancam bahaya letusan gunungapi, dan sekitar 3 juta orang yang tinggal di daerah bahaya. Oleh sebab itu pemantauan aktivitas gunungapi di Indonesia haruslah selalu dilaksanakan secara maksimal dan terus menerus, salah satunya di gununapi Kelut yang merupakan salah satu gunungapi aktif yang berada di daerah Jawa Timur.

Metode yang saat ini telah digunakan untuk pemantauan aktivitas gunungapi kelut diantaranya metode metode seismik, metode pengukuran kandungan gas pada kawah, pengukuran suhu kawah, dan metode pemantauan deformasi dengan menggunakan Sipat Datar, EDM dan GPS. Tim pemantau utama adalah DVMBG, yang bekerjasama dengan berbagai institusi baik nasional maupun internasional, diantaranya dengan KK Geodesi FTSL ITB.

Untuk memantau aktivitas seismik di Gunung Kelut, Direktorat Vulkanologi (DVMBG) bekerja sama dengan institusi internasional seperti Jerman  telah memasang stasiun pengamat gempa (seismograf) di sekitar kawah Gunung Kelut, kemudian datanya dikirim secara otomatis melalui telemetri.  Metode seismik yang menggunakan sensor seismometer ini pada dasarnya digunakan untuk mengevaluasi aktivitas yang terjadi di dalam gunung api.

Pemantauan kandungan gas dan suhu di kawah Kelut secara rutin dilakukan oleh pihak DVMBG.  Adanya peningkatan konsentrasi kandungan gas dan peningkatan suhu kawah menjadi indikator adanya peningkatan aktivitas vulkanis gunungapi. Pada pertengahan Januari 2001, suhu air kawah gunung Kelut meningkat menjadi 510C dari suhu normalnya berkisar sekitar 37-380C. Peningkatan suhu sebenarnya sudah dimulai sejak November 2000; tapi peningkatan secara drastis baru mulai 19 Januari 2001.

Disamping metode seismik dan monitoring kandungan gas serta suhu kawah, Pihak DVMBG bekerjasama dengan institusi lain seperti KK Geodesi ITB telah memanfaatkan metode deformasi seperti sipat datar, EDM dan GPS, untuk memantau aktivitas gunungapi. Metode ini dianggap punya potensi yang sangat besar untuk berkontribusi dalam pemantauan aktivitas gunung api. Metode ini pada dasarnya ingin mendapatkan pola dan kecepatan dari deformasi permukaan gunung api, baik dalam arah horisontal maupun vertikal.

€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”

Pemantauan Deformasi Gunungapi Kelut menggunakan GPS

Pemantauan  aktivitas deformasi di gunungapi yang terdapat di Jawa dan Bali mulai dilakukan dengan menggunakan teknologi  GPS secara episodik (berkala) oleh tim peneliti dari KK Geodesi ITB yang bekerja sama dengan tim dari Direktorat Vulkanologi dan mitigasi bencana alam, dan Nagoya University.  Gunungapi yang diamati yaitu:  gunung Bromo, Semeru, Ijen, Batur dan juga gunungapi Kelut

Pelaksanaan pemantauan aktivitas deformasi melalui survai GPS di gunungapi Kelut telah dilaksanakan sebanyak 5 kali pengamatan, dari mulai tahun 1998 sampai dengan 2006.  Pengambilan data pada masing-masing kala pengamatan dilakukan kurang lebih 2 hari. Ada sekitar 8 titik pantau deformasi yang diletakkan disekitar tubuh gunungapi, kemudian 1 titik kontrol diletakan di pos pengamatan gunung Kelut.

Di bawah ini adalah gambar-gambar dokumentasi survey lapangan pengambilan data GPS di titik-titik pantau deformasi gunung Kelut tahun 2002.  Titik Pantau dibangun di sekitar kawah gunung, di puncak dan di bagian punggungan gunung.

pdotkelud.jpgkawh-kelud.jpg park-kelud.jpg wrngkelud1.jpg

Di bawah ini adalah gambar-gambar dokumentasi tim yang melakukan survey GPS di gunung kelut pada tahun 2006 .yang melibatkan para mahasiswa geodesi ITB yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Geodesi

kawh1.JPGpdot.JPGgambar3.GIFsum1.JPG balzzzz.JPG eko.JPG

Pemantauan deformasi gunung api dengan menggunakan survai GPS pada prinsipnya dapat dilakukan secara episodik atau kontinyu. Dalam pengamatan secara episodik, koordinat dari beberapa titik GPS yang dipasang pada gunung api, ditentukan secara teliti menggunakan metode survey GPS. Koordinat titik-titik ini ditentukan dalam selang periode tertentu secara berkala dalam selang waktu tertentu, dan dengan menganalisa perbedaan koordinat yang dihasilkan untuk setiap periode, maka karakteristik deformasi dari gunungapi dapat dianalisis.

Pemantauan deformasi secara kontinyu secara prinsip sama dengan pemantauan deformasi secara episodik, yang membedakannya hanya aspek operasional dari pemantauan. Dalam pemantauan deformasi  secara kontinyu koordinat dari titik-titik GPS pada gunung api ditentukan secara real€“time dan terus menerus dengan sistem yang disusun secara otomatis. Agar metode ini dapat dilakukan maka diperlukan komunikasi data antara titik-titik GPS pada gunung api dan stasiun pengamat.

Data yang dikumpulkan tiap survey selanjutnya diproses dan digabungkan dengan hasil pengolahan data survey sebelumnya untuk di analisis karakteristik deformasi yang terjadi pada  gunungapi Papandayan yang diamati. Strategi pengamatan dan pengolahan data yang optimal merupakan salah satu sasaran utama penelitian, untuk memperoleh hasil yang baik.

Data GPS yang diambil untuk keperluan deformasi ini yaitu data phase dan data code GPS dari tipe Geodetik receiver GPS dual frekuensi (L1/L2), dengan lama pengamatan sekitar 10 sampai 24 jam. Desain jaring pengamatan yang digunakan yaitu desain jaring radial, dengan mengikatkan titik-titik pantau terhadap satu titik ikat (referensi) yang telah ditentukan di luar asumsi daerah yang kemungkinan mengalami deformasi.

Dari hasil survei GPS yang telah dilaksanakan sebanyak 5 kala disimpulkan bahwa pada saat ini gunung Kelut berada pada tingkat deformasi yang cukup normal. Tingkat deformasi seandainyapun nyata masih berada pada level perubahan jarak horizontal sekitar beberapa cm per tahunnya. Berdasarkan korelasi antara kala survei GPS dengan hasil pemantauan kegempaan dengan seismometer, maka nampaknya tingkat deformasi dalam orde cm per tahun tersebut belum merefleksikan tingkat aktivitas gunungapi Kelut yang membahayakan.

Berita Terkait