Pemantauan deformasi gunungapi Batur dengan GPS

GUNUNGAPI BATUR BALI

Gunungapi Batur adalah salah satu gunungapi aktif di Bali, terletak dalam kaldera Batur, yang berada di bagian timur-laut pulau Bali, sekitar 70 km di utara Denpasar. Kaldera Batur pada dasarnya terdiri dari dua kaldera. Kaldera terluar berbentuk ellips berukuran sekitar 13.8 km x 10 km, dan kaldera sebelah dalam berbentuk lingkaran dengan jejari sekitar 7.5 km.  Pematang (tebing) kaldera mempunyai ketinggian antara 1267 m sampai 2152 m (puncak gunung Abang). Gunungapi Batur memiliki ketinggian sekitar 1717 m di atas muka laut dan sekitar 686 m di atas muka danau Batur yang juga terletak di dalam kaldera. Sementara itu danau Batur yang berbentuk bulan sabit, menutupi dasar kaldera sebelah timur dan tenggara, dengan panjang sekitar 7.5 km, lebar maksimum sekitar 2.5 km dan sekeliling sekitar 22 km. Gunung Batur setidaknya telah meletus sebanyak 24 kali sejak tahun 1800.

batur005.JPG batur001a.jpgbatur006.JPG batur004.jpg

Berdasarkan catatan DVMBG, Pencapaian lokasi kawasan gunung Batur sangatlah mudah, dari Denpasar menuju Kintamani (Kota Kecamatan yang merupakan kawasan wisata gunung Batur) dapat dilakukan dengan kendaraan pribadi, bus, taksi atau kendaraan biro perjalanan wisata di Bali, karena kawasan gunung Batur adalah salah satu obyek wisata yang terkenal di Bali dan banyak pengunjungnya, sehingga fasilitas  jalan dan transportasi telah dipersiapkan oleh pemerintah dan swasta, termasuk jalan di dalam kaldera.  Untuk turun menuju dasar kaldera mudah dicapai dengan kendaraan roda empat dari Panelokan. Kondisi jalan cukup baik, beraspal mengelilingi tubuh gunung Batur, sehingga dalam perjalanannya dapat melihat kondisi tubuh gunung Batur dari segala arah dari dalam kaldera.

Sementara itu Pencapaian kawah/puncak gunung Batur  dapat dilakukan dari beberapa arah, di antaranya yang mudah adalah dari arah  baratlaut dimulai dari Latengaya atau dari Yehmampeh. Dari jalur ini dapat dengan mudah mencapai Kawah 1994 yang memerlukan waktu kurang lebih 30 menit. Selain itu untuk  mencampai puncak juga dapat dilakukan dari arah selatan dimulai dari kampung Seked dan dari arah timurlaut dimulai dari kampung Songan. Dari ketiga arah tersebut yang paling mudah adalah pendakian dari kampung Yehmampeh dari arah barat laut.

Berdasarkan catatan demografi yang dikumpulkan DVMBG, Penduduk yang bermukim di kawasan gunung Batur berpropesi sebagai  pedagang, petani, buruh, pelayanan  wisatawan termasuk perhotelan dan restoran. Sebagian besar beragama Hindu yang taat, sehingga banyak ditemui tempat peribadatan (pura) di kawasan gunung Batur, termasuk di dalam kaldera.  Kawasan gunung Batur sendiri termasuk wilayah Kecamatan Kintamani, yang jumlah penduduknya (sampai akhir Oktober 2001) sebanyak 85.003 orang. Berdasarkan data Kawasan Rawan Bencana gunung Batur (1997), jumlah penduduk yang bermukim di dalam Kawasan Rawan Bencana gunung Batur sebanyak 16.625 orang.

Selain memberikan dampak bencana ketika terjadi aktivitas vulkanis di gunung Batur, sisi positif keberadaan gunungapi ini juga dapat kita lihat berupa inventarisasi Sumberdaya Cadangan bahan galian produk erupsi gunung Batur masa lampau berupa pasir dan kerikil (sirtu) yang tersebar di dalam kaldera, yang ditambang oleh masyarakat, secara tradisional,  terutama di bagian utara dan baratlaut dari puncak. Cadangan lainnya berupa endapan leleran lava purna pembetukkan kaldera yang penyebarannya hampir mengelingi kawah-kawah gunung Batur dan terbatas di dalam kaldera. Cadangan lainnya lagi adalah endapan ignimbrit gunung Batur yang tersebar luas di luar kaldera, ditambang sebagai bahan bangunan, bahan kerajinan seni. Selain cadangan mineral, sumber daya lainnya berupa mata air panas yang lokasinya di Toyobangkah di dalam kaldera, dan Obyek wisata di kawasan gunung Batur, meliputi pendakian kawah-kawah gunung Batur, Danau Batur, panorama Panelokan, dan upacara keagamaan.

€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”

Pemantauan aktivitas vulkanis gunungapi Batur Bali

Aktivitas vulkanis gunungapi merupakan salah satu bentuk bencana alam kebumian yang menyertai kehidupan manusia.  Contoh aktivitas vulkanis yang menimbulkan bencana seperti erupsi material vulkanik, leleran lahar, semburan awan panas, semburan gas beracun, dan lain-lain. Telah banyak sekali catatan mengenai bencana alam gunungapi ini disertai dengan dampak negatif yang ditimbulkannya terhadap manusia baik untuk segi materi dan imateri.  Upaya untuk mereduksi dampak negatif yang mungkin timbul dari bencana dilakukan dengan cara monitoring aktivitas vulkanis gunungapi, dan selanjutnya dilakukan upaya mitigasi.

Di Indonesia, mengingat jumlah gunungapi tergolong relatif cukup banyak, bahaya letusan gunungapi harus mendapatkan perhatian yang serius baik dari pihak  pemerintah maupun masyarakat. Indonesia mempunyai 129 gunungapi aktif serta 271 buah titik erupsi yang merupakan konsekuensi dari interaksi dan tumbukan antara beberapa lempeng kerak bumi. Dengan jumlah penduduk sekitar 200 juta, dan juga kenyataan bahwa Pulau Jawa yang penduduknya paling padat juga mempunyai gunungapi yang paling banyak, maka tidak dapat dipungkiri bahwa bahaya letusan gunungapi adalah sesuatu yang nyata bagi rakyat Indonesia. Menurut [Katili & Siswowidjojo, 1994], sekitar 10% penduduk Indonesia tinggal di wilayah yang terancam bahaya letusan gunungapi, dan sekitar 3 juta orang yang tinggal di daerah bahaya. Oleh sebab itu pemantauan aktivitas gunungapi di Indonesia haruslah selalu dilaksanakan secara maksimal dan terus menerus, salah satunya di gunungapi Batur yang merupakan salah satu gunungapi aktif yang berada di daerah Bali.

Metode yang saat ini telah digunakan untuk pemantauan aktivitas gunungapi Bali diantaranya metode metode seismik, metode pengukuran kandungan sulfur pada Danau kawah, pengukuran suhu Danau kawah, dan metode pemantauan deformasi dengan menggunakan Sipat Datar, EDM dan GPS. Tim pemantau utama adalah DVMBG, yang bekerjasama dengan berbagai institusi baik nasional maupun internasional, diantaranya dengan KK Geodesi FTSL ITB.

Untuk memantau aktivitas seismik di Gunung Batur, Direktorat Vulkanologi (DVMBG) bekerja sama dengan institusi internasional telah memasang stasiun pengamat gempa (seismograf) di sekitar kawah Gunung Batur,  kemudian datanya dikirim secara otomatis melalui telemetri.  Metode seismik yang menggunakan sensor seismometer ini pada dasarnya digunakan untuk mengevaluasi aktivitas yang terjadi di dalam gunung api.

Pemantauan kandungan kadar sulfur dan suhu di danau kawah Batur secara rutin dilakukan oleh pihak DVMBG.  Adanya peningkatan konsentrasi kandungan gas dan peningkatan suhu kawah menjadi indikator adanya peningkatan aktivitas vulkanis gunungapi.

Disamping metode seismik dan monitoring kandungan sulfur serta suhu kawah, Pihak DVMBG bekerjasama dengan institusi lain seperti KK Geodesi ITB telah memanfaatkan metode deformasi seperti sipat datar, EDM dan GPS, untuk memantau aktivitas gunungapi. Metode ini dianggap punya potensi yang sangat besar untuk berkontribusi dalam pemantauan aktivitas gunung api. Metode ini pada dasarnya ingin mendapatkan pola dan kecepatan dari deformasi permukaan gunung api, baik dalam arah horisontal maupun vertikal.

€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”

Pemantauan Deformasi Gunungapi Batur menggunakan Teknologi GPS

Pemantauan  aktivitas deformasi di gunungapi yang terdapat di Jawa dan Bali mulai dilakukan dengan menggunakan teknologi  GPS secara episodik (berkala) oleh tim peneliti dari KK Geodesi FTSL ITB yang bekerja sama dengan tim dari Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana alam Geologi, dan Nagoya University.  Gunungapi yang diamati yaitu:  gunung Kelut, Bromo, Semeru, Ijen, dan juga gunungapi Batur.

Pemantauan deformasi melalui survai GPS di gunungapi Batur telah dilaksanakan sebanyak 5 kali pengamatan, dari mulai tahun 1998 sampai dengan 2004.  Pengambilan data pada masing-masing kala pengamatan dilakukan kurang lebih 1 minggu. Ada sekitar 12 titik pantau deformasi yang diletakkan disekitar tubuh gunungapi, kemudian 1 titik kontrol diletakkan di pos pengamatan gunung Batur.

Di bawah ini adalah gambar-gambar dokumentasi survey lapangan pengambilan data GPS di titik-titik pantau deformasi gunung Batur.  Titik Pantau dibangun di sekitar danau kawah gunung, di puncak dan di bagian punggungan gunung.

gbr004.JPG gbr011.JPG gbr012.JPG batur003.jpg

Pemantauan deformasi gunung api dengan menggunakan survai GPS pada prinsipnya dapat dilakukan secara episodik atau kontinyu. Dalam pengamatan secara episodik, koordinat dari beberapa titik GPS yang dipasang pada gunung api, ditentukan secara teliti menggunakan metode survey GPS. Koordinat titik-titik ini ditentukan dalam selang periode tertentu secara berkala dalam selang waktu tertentu, dan dengan menganalisa perbedaan koordinat yang dihasilkan untuk setiap periode, maka karakteristik deformasi dari gunungapi dapat dianalisis.

Pemantauan deformasi secara kontinyu secara prinsip sama dengan pemantauan deformasi secara episodik, yang membedakannya hanya aspek operasional dari pemantauan. Dalam pemantauan deformasi  secara kontinyu koordinat dari titik-titik GPS pada gunung api ditentukan secara real€“time dan terus menerus dengan sistem yang disusun secara otomatis. Agar metode ini dapat dilakukan maka diperlukan komunikasi data antara titik-titik GPS pada gunung api dan stasiun pengamat.

Data yang dikumpulkan tiap survey selanjutnya diproses dan digabungkan dengan hasil pengolahan data survey sebelumnya untuk di analisis karakteristik deformasi yang terjadi pada  gunungapi Batur yang diamati. Strategi pengamatan dan pengolahan data yang optimal merupakan salah satu sasaran utama penelitian, untuk memperoleh hasil yang baik.

Data GPS yang diambil untuk keperluan deformasi ini yaitu data phase dan data code GPS dari tipe Geodetik receiver GPS dual frekuensi (L1/L2), dengan lama pengamatan sekitar 10 sampai 24 jam. Desain jaring pengamatan yang digunakan yaitu desain jaring radial, dengan mengikatkan titik-titik pantau terhadap satu titik ikat (referensi) yang telah ditentukan di luar asumsi daerah yang kemungkinan mengalami deformasi.

Berdasarkan hasil survey yang dilakukan dalam periode Mei 1999 sampai Februari 2001 terjadi proses inflasi pada tubuh Batur bagian baratdaya yang berdekatan dengan kawah aktif, yang ditunjukkan dengan pemendekkan dan pemanjangan baseline di beberapa pasangan titik pantau. Proses inflasi ini menunjukkan terjadinya peningkatan aktivitas gunung Batur. Selama periode tersebut, yaitu sekitar dua tahun, terjadi perubahan jarak datar dalam orde 1-3 cm. Setelah terjadi proses inflasi,selanjutnya terjadinya proses deflasi pada tubuh barat-daya dari Batur. Hal ini ditunjukkan dengan pola pemanjangan dan pemendekan baseline di beberapa pasangan titik pantau.

Berita Terkait