Studi aktivitas Sesar Cimandiri menggunakan Teknologi GPS

SESAR CIMANDIRI JAWA BARAT

Sesar Cimandiri adalah sesar aktif yang terdapat di Sukabumi Selatan. Sesar yang memanjang Barat-Timur ini belum sepenuhnya diketahui karakternya seperti halnya Sesar Sumatera.  Dari penelitian di lapangan yang dilakukan oleh Geotek LIPI disimpulkan bahwa Sesar Cimandiri dapat dibagi menjadi 5 segmen mulai dari Pelabuhan Ratu sampai Gandasoli. Kelima segmen sesar Cimandiri tersebut adalah segmen sesar Cimandiri Pelabuhan Ratu €“ Citarik, Citarik €“ Cadasmalang, Ciceureum €“ Cirampo, Cirampo €“ Pangleseran dan Pangleseran €“ Gandasoli. Sesar ini dipotong oleh beberapa sesar lain yang cukup besar seperti sesar Citarik, sesar Cicareuh dan sesar Cicatih.

Sementara itu penelitian oleh ITB dengan menggunakan citra Landsat dan SPOT melihat kelurusan Sesar Cimandiri dari Pelabuhan Ratu mengikuti aliran sungai Cimandiri dan menerus ke timur laut sampai ke Lembang. Sesar Cimandiri sulit di jumpai tanda-tandanya dengan jelas di lapangan, dan diperkirakan sifat gerakannya berbeda-beda dari satu tempat ke tempat lain.

Lebih lanjut lagi dengan menggunakan teknik analisis struktur geologi yang dilakukan dengan metoda statistik yang diperkenalkan oleh J. Angelier (1979) yaitu metoda analisis populasi sesar dan metoda dihrogen tegak lurus, menyimpulkan bahwa tegasan terbesar yang mempengaruhi sesar Cimandiri Timur daerah Padalarang-Cipatat, berarah utara selatan, dan sesar Cimandiri timur merupakan jenis sesar geser merigi.

—————————————————————————————————————————————————

POTENSI KEGEMPAAN DI DAERAH SESAR CIMANDIRI

Potensi kegempaan di daerah sesar Cimandiri tergolong cukup besar, dengan melihat catatan-catatan gempa seperti  gempa yang terjadi di Pelabuhan Ratu (1900), gempa bumi Cibadak (1973), gempa bumi Gandasoli (1982), gempa bumi Padalarang (1910), gempa bumi Tanjungsari (1972) dan gempa bumi Conggeang (1948) dan Kab Sukabumi (2001), pusat gempa bumi yang merusak ini terletak pada Lajur sesar aktif Cimandiri.

Baru baru ini (di tahun 2006) telah terjadi kembali beberapa gempa dengan kekuatan sedang di sekitar sesar Cimandiri.  Catatan-catatan kegempaan di daerah sesar Cimandiri tersebut memberikan fakta pasti bahwa potensi kegempaan di daerah cukup besar, yang berarti potensi bencana di daerah ini akan sama besarnya pula.  Untuk itu upaya pemantauan potensi dan mitigasi bencana di sekitar sesar Cimandiri patut dilaksanakan dengan sebaik mungkin. Kehilangan satu nyawa saja akibat gempa sebetulnya sudah dapat dikatakan bencana.  Meski sangatlah sulit untuk menghindari diri dari bencana, namun setidaknya mereduksi dampak bencana merupakan harapan yang harus dicapai, diantaranya dengan melaksanakan program pemantauan potensi/aktivitas sesar serta mitigasi bencana.

—————————————————————————————————————————————————

Upaya Pemantauan potensi, pemantauan aktivitas sesar, serta mitigasi

Dengan adanya fakta aktivitas sesar memicu terjadinya gempa bumi, kemudian gempa memberikan efek negatif bencana, maka langkah pemantauan potensi dan usaha mitigasi bencana jelas penting sekali untuk dilakukan, sehingga diharapkan efek negatif yang dapat ditinggalkan oleh bencana tersebut dapat direduksi.  Salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam rangka pemantauan potensi dan mitigasi bencana alam gempa bumi yaitu melalui penelitian serta analisis aktivitas sesar berupa analisis mekanisme siklus dan tahapan aktivitas sesar yang berujung pada gempa bumi (disingkat menjadi siklus gempa bumi).  Siklus gempa bumi (earthquake cycle) didefinisikan sebagai perulangan gempa. Satu siklus dari gempa bumi ini biasanya berlangsung dalam kurun waktu puluhan sampai ratusan tahun.  Dalam satu siklus gempa bumi terdapat beberapa mekanisme tahapan terjadinya gempa bumi, diantaranya yaitu tahapan interseismic, pre-seismic, co-seismic, dan post-seismic  [Mori (2004), Vigny (2004), Ando (2005), Natawidjaja (2004)]

Bentuk analisis siklus gempa bumi dilakukan dengan cara meneliti dokumen sejarah kejadian gempa bumi, dan penelitian-penelitian geologi, geofisika seperti stratigrafi batuan, terumbu karang (coral microattols), paleo-tsunami, untuk gempa yang terjadi di laut, paleo-likuifaksi dan lain-lain [Mori (2004), Vigny (2004; 2005), Ando (2005), Natawidjaja (2004)].

Sementara itu bentuk analisis tahapan (mekanisme) gempa bumi dilakukan dengan cara melihat dan meneliti fenomena-fenomena yang menyertai tahapan gempa bumi seperti deformasi, seismisitas, informasi pengukuran geofisika (reseistivitas elektik, pengamatan muka dan temperatur air tanah), dan lain-lain. [Mori (2004), Vigny (2004; 2005), Ando (2005), Natawidjaja (2004)].

€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”

Studi Aktivitas Sesar Cimandiri menggunakan Teknologi GPS

Pada akhir tahun 2006, KK Geodesi bekerjasama dengan Kementrian Lingkungan Hidup mulai meneliti kembali aktivitas Sesar Cimandiri dengan memanfaatkan Teknologi GPS. Sebelumnya melalui kerjasama dengan Universitas Jepang, pernah dilakukan penelitian yaitu pada tahun 1994-1998 dan 2000.  Seperti diketahui bahwa Sesar Cimandiri melewati beberapa daerah yang cukup sarat penduduk, seperti Pelabuhan ratu, Sukabumi, Cianjur, dan Padalarang. Maka dari itu, penelitian mengenai aktivitas sesar ini jelas sekali diperlukan, karena daerah sesar Cimandiri mempunyai potensi kegempaan yang cukup besar. Teknologi GPS dapat melihat karakteristik dinamika geometrik di sekitar sesar, kemudian selanjutnya dapat dijadikan parameter dalam penentuan model aktivitas sesar.

cibo-c.thumbnailplrt-c.thumbnailcbdk-a.thumbnailsgrt-d.thumbnailcuge-a.thumbnail

Prinsip penentuan aktivitas sesar dengan menggunakan metode survei GPS adalah dengan cara menempatkan beberapa titik di beberapa lokasi yang dipilih, secara periodik ditentukan koordinatnya secara teliti dengan menggunakan metode survei GPS. Dengan mempelajari pola dan kecepatan perubahan koordinat dari titik-titik tersebut dari survei yang satu ke survei berikutnya, kemudian bersama data-data penunjang lainnya dimodelkan secara matematis maka karakteristik aktivitas sesar akan dapat dilihat dan dipelajari lebih lanjut guna pembuatan model potensi bencana alam gempa bumi.

Model yang dapat dibuat diantaranya yaitu: model deformasi elastic, yang kemudian memperlihatkan parameter-parameter sesar seperti lokasi sesar, geometri sesar dan tingkat akumulasi deformasi pada sesar.  Kemudian dari model ini kita dapat menentukan akumulasi strain, locking depth, prediksi energi gempa yang mungkin terjadi di daerah sesar tersebut.  Dengan kata lain melalui input data GPS dan output model aktivitas sesar, maka kita dapat menentukan model potensi bencana alam gempa bumi di wilayah sesar yang kita teliti.

Seperti telah disebutkan di atas, Survei GPS sebelumnya sudah dilakukan di daerah sekitar sesar Cimandiri dalam kurun waktu 1994 sampai dengan 2000.  Data-data yang diperoleh tersebut kini sedang di gabungkan dengan data yang telah diambil dalam program penelitian kali ini untuk selanjutnya digunakan sebagai parameter utama dalam menentukan model pola aktivitas sesar Cimandiri.

Lokasi dan distribusi dari titik-titik GPS untuk studi aktivitas sesar Cimandiri dengan GPS disebar dekat dengan sesar dan di beberapa tempat yang jauh dari sesar untuk melihat far field velocity-nya. Jaring pemantauan ini nantinya  diproses dengan mengikutsertakan data-data IGS yang tersebar di sekitar wilayah Asia dan Australia sebagai titik-titik pengikatan global.

Karakteristik pergeseran sesar yang diperoleh dari survei GPS di sekitar sesar Cimandiri ini selanjutnya akan diintegrasikan dengan informasi seismisitas, informasi histori aktivitas sesar, informasi tektonik seting untuk membuat model potensi gempa bumi di sekitar sesar Cimandiri, dan selanjutnya model ini diharapkan dapat membantu upaya pemantauan potensi dan mitigasi bencana.

 

Berita Terkait