SEAMERGES PROJECT

SEAMERGES (South East Asia Mastering Environmental Research with Geodetic Space Technique) adalah suatu proyek kerjasama penelitian yang didanai oleh ASEAN-EU University Network Programe (AUNDP), divisi pembangunan sumber daya manusia (human resources development), di bawah naungan European Committe (EC), yang dimulai pada tanggal 1 januari 2004, dan berlangsung selama 2 tahun. Institusi yang menjadi peserta (participant) penelitian ini adalah institusi-institusi yang mempunyai frame work ke-geodesi-an yang mewakil Eropa dan Asia Tenggara yaitu research group dari DEOS Belanda, ENS Prancis, ITB Indonesia, UTM Malaysia, Chulalongkorn University Thailand.

Kegiatan-kegiatan penelitian yang dilaksanakan cukup beragam yaitu terdiri dari penyelenggaraan seminar/simposium, pertukaran pengetahuan (exhcange knowlegde), training course, dan beberapa pilot project yang berkaitan dengan aplikasi dari teknologi Global Positioning System (GPS), aplikasi dari teknologi InSAR (Interferometric Sysnthetic Aperture Radar), dan terakhir yaitu aplikasi Satelit Altimetri dalam bidang-bidang yang menyangkut environment, seperti monitoring potensi bencana, dan lain-lain.

—————————————————————————————————————————————————

TUJUAN DARI SEAMERGES PROJECT

Tujuan dari diselenggarakannya SEAMERGES Project yaitu untuk transfer ilmu pengetahuan, keterampilan (expertise), dan transfer teknologi bagi ilmuan yang ada di Asia Tenggara dalam bidang teknologi Geodetik yang diperuntukan aplikasinya bagi bidang-bidang seperti pengelolaan air (water management) dan mitigasi bencana (risk assesment).  Selain itu tujuan project ini juga untuk membangun jaringan kerjasama antar ilmuan dari negara-negara di Asia tenggara khususnya, dan lebih luas lagi yaitu membangun jaringan kerjasama penelitian dengan negara-negara Eropa dibidang aspek Geodetik.  Aktivias Utama dari SEAMERGES Project ini seperti yang telah disebutkan di atas yaitu penyelenggaraan seminar/simposium, pertukaran pengetahuan (exhcange knowlegde), training course, dan beberapa pilot project yang berkaitan dengan aplikasi dari teknologi Global Positioning System (GPS), aplikasi dari teknologi InSAR (Interferometric Sysnthetic Aperture Radar), dan terakhir yaitu aplikasi Satelit Altimetri.

————————————————————————————————————————————————–

THE (PILOT) RESEARCH PROJECT

Pilot Research Project yang dilakukan yaitu membuat suatu penelitian dengan memanfaatkan teknologi GPS, InSAR, dan Satelit Altimetri dibidang-bidang kajian yang menjadi perhatian di negara masing-masing anggota yang tergabung di dalam kerjasama SEAMERGES ini khususnya yaitu Indonesia, malaysia, dan Thailand.  Sementara itu peneliti dari Eropa bertindak sebagai partner pelaksanaan program Pilot research Project yang dipilih.  Contohnya untuk Indonesia, bidang kajian yang cocok dengan aplikasi teknologi satelit GPS, InSAR, dan Altimetri diantaranya penelitian deformasi gunungapi, penelitian land subsidence, dan penelitian karakteristik muka laut.

____________________________________________________________________________

seamerges.thumbnail gps1.thumbnail    sweep_insar_thumb.thumbnail    altimetri1.thumbnail  rencana.thumbnail

GPS(Global Positioning System) adalah sistem satelit navigasi dan penentuan posisi yang dimiliki dan dikelola oleh Amerika Serikat. Sistem ini didesain untuk memberikan posisi dan kecepatan tiga-dimensi serta informasi mengenai waktu, secara kontinyu di seluruh dunia tanpa bergantung waktu dan cuaca, kepada banyak orang secara simultan. Saat ini GPS sudah banyak digunakan orang di seluruh dunia dalam berbagai bidang aplikasi yang menuntut informasi tentang posisi, kecepatan, percepatan ataupun waktu yang teliti. GPS dapat memberikan informasi posisi dengan ketelitian bervariasi dari beberapa millimeter (orde nol) sampai dengan puluhan meter

____________________________________________________________________________

InSAR merupakan suatu teknik yang digunakan untuk mengekstraksi informasi tiga dimensi (3D) dari permukaan bumi dengan pengamatan fasa gelombang radar.  Pada awalnya radar interferometri digunakan untuk pengamatan permukaan bulan dan planet venus.  Pada tahun 1974 teknik ini diaplikasikan pertama kali di bidang pemetaan.  Untuk memperoleh topografi dari citra harus dipenuhi dya buah syarat, yaitu obyek dipermukaan bumi yang dicitrakan harus dapat terlihat dengan jelas atau memiliki resolusi citra yang tinggi sehingga dapat dilakukan interpretasi dan identifikasi yang sesuai.  Selain itu citra harus memiliki posisi tiga dimensi yang cukup sehingga daerah yang akan dipetakan dapat diketahui topografinya.  Kedua hal tersebut hanya dapat dipenuhi oleh teknik InSAR.  Hal inilah yang menyebabkan semakin banyak bidang kajian yang mengaplikasikan InSAR

____________________________________________________________________________

Sistem satelit altimetri berkembang sejak tahun 1975, saat diluncurkannya sistem satelit Geos-3.  Pada saat ini secara umum sistem satelit altimetri mempunyai tiga objektif ilmiah jangka panjang yaitu: mengamati sirkulasi lautan global, memantau volume dari lempengan es kutub, dan mengamati perubahan muka laut rata-rata (MSL) global.  Dalam konteks geodesi, objektif terakhir dari misi satelit altimetri tersebut adalah yang menjadi perhatian.  Dengan kemampuannya untuk mengamati topografi dan dinamika dari permukaan laut secara kontinyu, maka satelit altimetri tidak hanya bermanfaat untuk pemantauan perubahan MSL global, tetapi juga akan bermanfaat untuk beberapa aplikasi geodetik dan oseanografi.

————————————————————————————————————————————————-

Training Course dan Simposium

Simposium pertama sebagai awal dilaksanakannya SEAMERGES Project dilakukan di Bangkok Thailand.  KK Geodesi sebagai wakil dari ITB Indonesia mengirimkan beberapa delegasinya untuk menghadiri simposium tersebut.  Setelah itu beturut-turut dilakukan training course GPS di Thailand, InSAR di Malaysia, dan Satelit Altimetry di ITB Bandung Indonesia.  Setelah itu dilakukan training course tahap 2 yang juga diselenggarakan masing-masing di tempat yang sama. Kegiatan lainnya yaitu short visit ke DEOS Belanda bagi peserta dari masing masing-masing negara di Asia Tenggara yang tergabung dengan SEAMERGES selama 2 minggu.  Sementara itu pelaksanaan Pilot project dilakukan di negara masing-masing.  Final Symposium yang menandai akhir  project SEAMERGES kembali dilakukan di Unversitas Chulalongkorn Bangkok Thailand.

seamerges001.thumbnail seamerges002.thumbnail seamerges003.thumbnail seamerges004.thumbnail seamerges005.thumbnail

————————————————————————————————————————————————–

SEAMERGES PROJECT MENELITI MEKANISME GEMPA ACEH 2004

Untuk melihat mekanisme dari gempa bumi Aceh 2004 dapat dilakukan salah satunya dengan memanfaatkan teknologi Global Positioning System (GPS).  Data GPS dapat dengan baik melihat deformasi yang mengiringi tahapan mekanisme terjadinya Gempa Bumi.  Studi mengenai tahapan mekanisme gempa ini akan sangat berguna dalam melakukan evaluasi potensi Bencana Alam gempa bumi, untuk memperbaiki upaya mitigasi dimasa datang.

SEAMERGES yang telah mengumpulkan data-data GPS dari lebih 60 stasiun titik pengamatan yang berkaitan dengan pergerakan lempeng di Asia tenggara dan data-data GPS yang berkaitan dengan gempa Aceh 2004 dan Gempa Nias 2005. Sebagian data berupa data kontinyu, dan sebagian lagi berupa data campaign.

Berdasarkan hasil perhitungan yang dilakukan melalui SEAMERGES Project memperlihatkan, besarnya co-seismic deformation akibat gempa Aceh 2004 di beberapa titik pantau far field adalah sebagai berikut: titik Phuket Thailand terdeformasi sebesar 27 sentimeter, titik Langkawi Malaysia terdeformasi sebesar 17 sentimeter, dan titik Sampali yanng berada di Sumatera Utara terdeformasi 15 sentimeter (Simon et al 2005)
Dari hasil co-seismic deformation gempa Aceh 2004 tersebut,  kemudian dibuat model co-seismic slip (pergeseran pada bidang sesar) dengan menggunakan formula elastic half space modeling (Okada 1999). Dari hasil model dapat dilihat panjangnya rupture gempa mencapai 1000 kilometer, maksimum slip 35 meter (Vigny et al 2005)

Informasi co-seismic slip gempa Aceh yang dibuat, dapat digunakan dalam melihat mekanisme release energi, kemudian perhitungan besar energi, serta mekanisme transfer energy (stress transfer) yang berguna dalam hal evaluasi potensi gempa.
Post-seismic pada gempa Aceh 2004 dimulai tepat setelah berakhirnya deformasi elastis pada tahapan co-seismic.  Nilai deformasi bertambah sebesar 4 sentimeter dalam kurun waktu 15 hari di stasiun PHKT (Phuket Thailand).  Rekaman sinyal post-seismic menunjukan pola eksponensial sesuai dengan hukum omori mengenai tahapan ini.  Nilai deformasi di stasiun PHKT (Phuket Thailand) setelah 50 hari dari waktu kejadian gempa mencapai 34 cm, dan nilai ini cukup signifikan, mencapai 1.25 kali nilai deformasi yang diberikan tahapan co-seismic.

Seperti telah disebutkan di atas bahwa studi mengenai tahapan mekanisme gempa ini akan sangat berguna dalam melakukan evaluasi potensi Bencana Alam gempa bumi, untuk memperbaiki upaya mitigasi dimasa datang.  Setelah melihat mekanisme fase gempa bumi di Aceh 26 Desember 2004 di tambah dengan informasi penelitian siklus gempa bumi, dan penelitian lainnya, maka kita dapat melakukan evaluasi potensi gempa bumi di masa yang akan datang di sekitar zona subduksi Sumatera pasca terjadinya kedua gempa besar tersebut

Berita Terkait