Pemantauan Pergerakan Tanah ( landslide ) menggunakan teknologi GPS

FENOMENA LANDSLIDE

Landslides (batuan/ tanah longsor) merupakan contoh yang spektakuler dari proses geologi yang disebut mass wasting. Mass Wasting yang sering juga disebut mass movement, merupakan perpindahan masa batuan, regolit dan tanah dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah karena gaya gravitasi. Setelah batuan lapuk, gaya gravitasi akan menarik material hasil pelapukan ke tempat yang lebih rendah. Sungai biasanya membawa material tersebut ke laut dan tempat yang rendah lainnya untuk diendapkan, sehingga terbentuklah bentang alam bumi perlahan-lahan.

landslide002.thumbnaillandslide0011.thumbnailp1263698.thumbnailp1263681.thumbnail

Meskipun gravitasi merupakan faktor utama terjadinya mass wasting, ada beberapa faktor lain yang berpengaruh juga terhadap terjadinya proses tersebut. Air merupakan salah satu dari faktor-faktor tersebut. Apabila pori-pori sedimen terisi oleh air, gaya kohesi antar material akan semakin lemah, sehingga memungkinkan partikel-partikel tersebut dengan mudah untuk bergeser. Sebagai contoh, pasir akan menggumpal dengan baik pada kondisi yang lembab, tetapi bila kedalam pasir tersebut ditambahkan air, maka air akan membuka dan mengisi rongga diantara partikel pasir, dan butir pasir akan mengembang kesegala arah. Jadi kejenuhan akan mengurangi tahanan dalam material, sehingga akan dengan mudah digerakkan oleh gaya gravitasi. Selain itu air juga akan menambah berat masa material, sehingga dengan demikian cukup untuk menyebabkan material untuk meluncur ke bawah.

Kemiringan lereng yang terjal juga merupakan faktor lain yang dapat menyebabkan terjadinya mass movement. Partikel lepas dan tidak terganggu, serta membentuk kemiringan yang stabil disebut €œangle of repose€, yaitu kemiringan lereng maksimum yang material penyusunnya tetap stabil. Tergantung pada ukuran dan bentuk partikelnya, besarnya sudut lereng bervariasi dari 25o sampai 40o. Semakin besar dan menyudut partikelnya, semakin besar sudut kemiringan stabilnya. Jika kemiringan bertambah, rombakan batuan akan menstabilkan kedudukannya dengan meluncur ke bawah. Banyak kondisi di alam yang menyebabkan keadaan tersebut, antara lain sungai yang menggerus dinding lembahnya, dan ombak yang mengikis bagian dasar dari tebing pantai. Manusia juga dapat menyebabkan kemiringan lereng yang menjadi semakin besar sehingga dapat mengakibatkan terjadinya mass wasting.

————————————————————————————————————————————————–

BENCANA AKIBAT LANDSLIDE

Landslide adalah salah satu bencana kebumian yang cukup sering terjadi di Indonesia, terutama selama musim hujan di kawasan perbukitan dan pegunungan. Bencana ini tidak hanya menghancurkan lingkungan hidup serta sarana dan prasarana, tapi umumnya juga menimbulkan korban jiwa. Menurut catatan yang ada rata-rata sekitar 75 kejadian bencana tanah longsor terjadi di Pulau Jawa/ Madura per  tahun, yang memakan banyak korban baik jiwa maupun material.  Oleh karena itu proses pemantauan bahaya dan mitigasi bencana longsor ini adalah sangat penting untuk dilaksanakan secara baik dan berkesinambungan.

longsor001.thumbnaillongsor001.thumbnaillongsor002.thumbnaillongsor005.thumbnail

————————————————————————————————————————————————–

TEKNIK PEMANTAUAN LANDSLIDE

Kegiatan pemantauan landslide untuk upaya meminimumkan dampak buruk yang dapat terjadi akibat fenomena bencana alam tanah longsor telah banyak dilakukan antara lain dengan cara penyelidikan langsung di lapangan baik secara periodik maupun setelah terjadi bencana, dalam rangka mencari faktor penyebab bencana, dan untuk mengantisipasi kemungkinan bencana serupa yang mungkin terjadi di waktu yang akan datang. Selain itu, telah mulai dibuat  peta-peta daerah rawan tanah longsor skala nasional, dan skala wilayah/daerah melalui peta data kelongsoran yang tersedia dan data kemiringan lereng dari peta topografi, yang dapat dapat dijadikan sebagai panduan bagi pihak-pihak terkait untuk mengantisipasi keterjadian tanah longsor di suatu wilayah. Penggunaan teknologi juga mulai banyak dilakukan, diantaranya dengan memanfaatkan teknologi Global Positioning System (GPS), EDM, dan teknologi lainnya.

—————————————————————————————————————————————————

TEKNIK PEMANTAUAN LANDSLIDE  DENGAN GPS

Survei GPS adalah metode penentuan posisi dari beberapa titik secara teliti (orde ketelitian mm-cm) terhadap satu atau beberapa titik kontrol yang telah diketahui koordinatnya, dengan menggunakan data pengamatan fase dari beberapa satelit GPS yang diamati dalam selang waktu tertentu [Abidin, 2000; Abidin et al., 2002]. Prinsip studi landslide dengan metode survei GPS adalah dengan membandingkan koordinat dari beberapa titik pada daerah rawan landslide (gerakan tanah) yang diperoleh dari beberapa survei GPS yang dilakukan dengan selang waktu tertentu. Karakteristik gerakan tanah diperoleh dengan melakukan analisa pergeseran terhadap perbedaan koordinat dari titik-titik GPS yang diperoleh tersebut

Untuk mendapatkan nilai perbedaan koordinat yang baik dengan tingkat ketelitian dalam orde beberapa mm, survei GPS harus dilakukan dengan receiver GPS tipe geodetik, sebaiknya dari jenis dua frekuensi. Lama pengamatan di setiap titik disesuaikan dengan jarak antar titik pengamatan. Untuk jarak lebih pendek dari 5 km, maka pengamatan selama 2-3 jam biasanya sudah memadai untuk mencapai  tingkat ketelitian beberapa mm.

Survei GPS sudah banyak dimanfaatkan untuk studi gerakan tanah, terutama di luar Indonesia, seperti yang dapat dilihat di [Gili et al., 2000; Moss, 2000; Malet et al., 2002; Rizzo, 2002; Mora et al., 2003]. Untuk mendapatkan informasi gerakan tanah yang lebih terpadu, karakteristik gerakan tanah yang diperoleh dari GPS ini sebaiknya diintegrasikan dan dikorelasikan dengan data hidro-geologi dan geologi teknik dari kawasan tersebut.

—————————————————————————————————————————————————

Penelitian LandSlide di Ciloto menggunakan GPS

Daerah Ciloto merupakan daerah rawan landslide. Studi mengenai landslide  di daerah ini telah dilakukan diantaranya dengan GPS.  Survei GPS di Ciloto telah dilaksanakan sejak awal 2002, dan sampai saat ini telah dilaksanakan empat kali survei. Kegiatan Survei ini dilaksanakan oleh KK Geodesi FTSL ITB bekerjasama dengan DVMBG (Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi).

Survei pertama dilaksanakan pada saat musim hujan berkepanjangan masih berlangsung, sedangkan survei kedua dan ketiga dilaksanakan pada musim kemarau. Selang waktu antara survei pertama dan kedua adalah sekitar 2.5 bulan, sedangkan antara survei kedua dan ketiga sekitar 13 bulan. Sementara itu survey terakhir dilakukan tahun 2004.
Pada survei GPS di Ciloto ini sebanyak 14 titik GPS ditempatkan di area yang diperkirakan menjadi tempat pergerakan tanah. Dari keempat belas titik pantau GPS tersebut ditambah dengan satu titik EDM yang telah ada sebelumnya, akan dicari kordinat teliti yang selanjutnya dijadikan sebagai parameter dalam analisis pergerakan tanah yang terjadi (setelah minimal dua kala pengamatan  dilakukan).

clto1_12.thumbnailclto1_04.thumbnailclto1_15.thumbnailclto1_10.thumbnail

Jaring titik pantau didesain secara radial dari titik ikat yang  terdapat di Pos pengamatan, dan titik Referensi 2 yang berada di daerah punggungan blok daerah Pos pengamatan gunungapi Gede Pangrango berada, dengan sebelumnya keduanya  diikat-kan terlebih dahulu pada stasiun tetap GPS Bakosurtanal di daerah Cibinong.

Dari hasil pengolahan data survey GPS memang diperoleh informasi mengenai adanya pergerakan tanah di wilayah Ciloto.  Besarnya penurunan tanah di wilayah Ciloto selama empat periode ini rata€“rata berkisar antara beberapa centimeter sampai beberapa belas centimeter.  Meskipun pergerakannya tidak terlihat besar, namun informasi ini dapat berguna untuk analisis lebih lanjut mengenai karakteristik pergerakan tanah di daerah ini.

—————————————————————————————————————————————————

Penelitian Landslide di Megamendung menggunakan GPS

Daerah sekitar Megamendung merupakan daerah rawan landslide. Studi mengenai landslide di daerah ini telah dilakukan diantaranya dengan GPS.  Survei GPS di daerah ini  telah dilaksanakan sejak awal 2002, dan sampai saat ini telah dilaksanakan empat kali survei.  Kegiatan Survei landslide ini dilaksanakan oleh KK Geodesi FTSL ITB bekerjasama dengan DVMBG (Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi).

Pada survei GPS di Megamendung ini sebanyak 8 titik GPS ditempatkan di area yang diperkirakan menjadi tempat pergerakan tanah. Dari kedelapan titik pantau GPS tersebut akan dicari koordinat teliti yang selanjutnya dijadikan sebagai parameter dalam analisis pergerakan tanah yang terjadi (setelah minimal dua kala pengamatan  telah dilakukan).
Jaring titik pantau didesain secara radial dari titik ikat yang  terdapat di daerah stabil dari efek pergerakan tanah disekitar daerah Megamendung, Titik ikat yang dipilih tersebut sebelumnya ditentukan secara teliti koordinatnya dengan cara mengikatkan  terlebih dahulu pada stasiun tetap GPS Bakosurtanal di daerah Cibinong.

mg01a.thumbnailmg02.thumbnailmg03b.thumbnailp1263692.thumbnail

Dari hasil pengolahan data survey GPS diperoleh informasi mengenai adanya pergerakan tanah di wilayah Megamendung.  Besarnya penurunan tanah di wilayah Megamendung selama empat periode ini ternyata cukup besar berkisar antara beberapa puluh centimeter sampai dengan level sekitar satu meter.  Pergerakan tanah ini memang terlihat cukup besar, kemudian juga dapat terlihat secara fisiknya dengan jelas berupa rumah-rumah yang retak, juga tembok-tembok jalan yang retak.  Keadaan yang terbilang cukup mengkhawatirkan ini membutuhkan tindakan yang tepat dari pemerintah yang berwenang untuk melakukan upaya mitigasi, untuk menghindarkan efek negatif yang mungkin terjadi jika bencana landslide muncul di daerah ini, yang memang cukup banyak penduduk yang tinggal di daerah sana.

 

Berita Terkait