Pemantauan Land Subsidence di semburan lumpur Porong Lapindo dengan GPS

SEMBURAN LUMPUR PANAS DI PORONG SIDOARJO

Semburan lumpur panas dari bawah permukaan bumi ke atas permukaan bumi telah terjadi di daerah Porong Sidoarjo Jawa TImur (Sekitar 20 kilometer sebelah selatan Surabaya).  Semburan ini terjadi ketika PT Lapindo melakukan eksplorasi gas dan minyak bumi dengan melakukan pemboran di daerah Porong tersebut.  Mekanisasi dari kejadian ini sampai sekarang masih kontradiktif antara kelalaian manusia dan gejala alam.  Akibat dari semburan lumpur yang terus menerus dengan volume yang cukup besar maka telah menimbulkan luapan dan genangan lumpur di sekitar daerah Porong.  Tercatat sampai sekarang beberapa desa sudah tenggelam dalam lumpur.  Sampai kapan luapan lumpur akan terjadi masih menjadi tanda tanya.

lumpur-porong01.thumbnail lumpur-porong02.thumbnail lumpur-porong03.thumbnail lumpur-porong04.thumbnail

————————————————————————————————————————————————-

FENOMENA LAND SUBSIDENCE DI PORONG SIDOARJO

Land subsidence didefinisikan sebagai penurunan muka tanah sebagai fungsi dari waktu yang diakibatkan oleh banyak faktor, seperti pengambilan air tanah yang berlebihan (groundwater over exploitation), keluarnya gas dan lumpur secara massive dari dalam tanah ke permukaan, penurunan karena beban bangunan, penurunan karena adanya konsolidasi alamiah dari lapisan-lapisan tanah, serta penurunan karena gaya-gaya tektonik. Land subsidence atau penurunan tanah telah di deteksi terjadi di Porong Sidoarjo.  Seperti diketahui di daerah Porong Sidoarjo, tepatnya di daerah eksplorasi migas yang dikelola PT Lapindo, telah terjadi luapan lumpur panas dari bawah permukaan dengan volume yang besar dan terus berlangsung sampai saat ini. Efek dari keluarnya gas dan lumpur tersebut, seperti telah dijelaskan diatas berdampak bagi terjadinya land subsidence

€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€“

DAMPAK YANG MENYERTAI TERJADINYA LAND SUBSIDENCE

Land subsidence dapat menyebabkan kerusakan pada bangunan dan struktur seperti retak-retak dan amblasan, pembalikkan arah sistem drainase (saluran jalan air), dan meningkatkan kemungkinan terjadinya bencana banjir (Poland dan Davis, 1969).  Bahkan efek subsidence dapat menyebabkan kerusakan yang lebih ekstrim lagi berupa amblesan besar tanah (sinkholes) menghasilkan lubang besar, dan rekahan yang besar memanjang (Fisurries) di beberapa tempat disekitar daerah yang terjadi land subsidence.  Pengaruh dari land subsidence ini biasanya tidak terasa dalam jangka pendek, tetapi untuk beberapa kasus mungkin saja terjadi dalam waktu yang lebih cepat.

Contoh dampak akibat land subsidence berupa retakan-retakan pada bangunan dan struktur dapat kita lihat disebagian wilayah Jakarta dan Bandung, yang berdasarkan hasil penelitian merupakan daerah yang mengalami land subsidence akibat dari pengambilan air tanah yang berlebihan.  Sementara itu contoh sinkholes dan Fisurries dapat kita lihat masing-masing terjadi di Amerika Serikat, dan juga di Cina.

crack001.thumbnailcrack0021.thumbnail sinkholes.thumbnaillandsubsidencecalif.thumbnailfisurres.thumbnail

Melihat dampak negatif yang ditimbulkan oleh efek dari land subsidence berupa kerusakan bangunan, bahkan mungkin korban jiwa apabila terjadi amblasan yang besar, maka pemantauan land subsidence perlu untuk dilakukan, bahkan dimungkinkan untuk menekan laju terjadinya land subsidence dengan upaya-upaya khusus.

—————————————————————————————————————————————————

TEKNIK PEMANTAUAN  LAND SUBSIDENCE

Pada prinsipnya, penurunan tanah atau land subsidence suatu wilayah dapat dipantau dengan menggunakan beberapa metode, baik itu metode-metode hidrogeologis (e.g. pengamatan level muka air tanah serta pengamatan dengan ekstensometer dan piezometer yang diinversikan kedalam besaran penurunan muka tanah) dan metode geoteknik, maupun metode-metode geodetik seperti survei sipat datar (leveling), survei gaya berat mikro, survei GPS (Global Positioning System), dan InSAR (Interferometric Synthetic Aperture Radar).

€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”€”

TEKNIK PEMANTAUAN LAND SUBSIDENCE DI PORONG SIDOARJO DENGAN GPS

GPS adalah sistem satelit navigasi dan penentuan posisi yang berbasiskan pada pengamatan satelit-satelit Global Positioning System [Abidin, 2000; Hofmann-Wellenhof et al., 1997]. Prinsip studi penurunah tanah dengan metode survei GPS yaitu dengan menempatkan  beberapa titik pantau di beberapa lokasi yang dipilih, secara periodik atau kontinyu untuk ditentukan koordinatnya secara teliti dengan menggunakan metode survei GPS. Dengan mempelajari pola dan kecepatan perubahan koordinat dari titik-titik tersebut dari survei yang satu ke survei berikutnya atau hasil data kontinyu, maka karakteristik penurunan tanah (land subsidence) akan dapat dihitung dan dipelajari lebih lanjut.

Gambar di bawah ini merupakan perangkat receiver GPS yang dipasang di beberapa titik pengamatan. Titik-titik tersebut merepresentasikan penurunan tanah karena titik-titik tersebut berada di daerah yang diduga mengalami penurunan tanah.

s2020071.thumbnailswh1-1-18.thumbnail s2020051.thumbnail jbsr-a.thumbnails2020074.thumbnail

Gambar di bawah ini adalah dokumentasi pemasangan sistem GPS kontinyu di daerah Porong Sidoarjo untuk memantau penurunan tanah (land subsidence) dari hari ke hari. Mengapa sampai dilakukan pemantauan setiap hari karena terindikasi penurunan yang cukup cepat dalam fungsi waktu.

gps-continuous004.thumbnailgps-continuous005.thumbnailgps-continuous002.thumbnailgps-continuous006.thumbnailgps-continuous003.thumbnailgps-continuous-001.thumbnail

GPS memberikan nilai vektor pergerakan tanah dalam tiga dimensi (dua komponen horisontal dan satu komponen vertikal). Jadi disamping memberikan informasi tentang besarnya penurunan muka tanah, GPS juga sekaligus memberikan informasi tentang pergerakan tanah dalam arah horisontal.

GPS memberikan nilai vektor pergerakan dan penurunan tanah dalam suatu sistem koordinat referensi yang tunggal. Dengan itu maka GPS dapat digunakan untuk memantau pergerakan suatu wilayah secara regional secara efektif dan efisien.

GPS dapat memberikan nilai vektor pergerakan dengan tingkat presisi sampai beberapa mm, dengan konsistensi yang tinggi baik secara spasial maupun temporal. Dengan tingkat presisi yang tinggi dan konsisten ini maka diharapkan besarnya pergerakan dan penurunan tanah yang kecil sekalipun akan dapat terdeteksi dengan baik.

GPS dapat dimanfaatkan secara kontinyu tanpa tergantung waktu (siang maupun malam), dalam segala kondisi cuaca. Dengan karakteristik semacam ini maka pelaksanaan survei GPS untuk pemantauan pergerakan dan penurunan muka tanah dapat dilaksanakan secara efektif dan fleksibel.

Seperti telah disebutkan di atas bahwa penurunan tanah (land subsidence) telah terdeteksi terjadi di sekitar luapan lumpur panas Porong Sidoarjo.  Dengan maksud untuk melihat lebih lanjut karakteristik land subsidence di Porong sidoarjo, maka PT Lapindo Brantas bersama dengan IAG dan Kelompok Keilmuan Geodesi Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan ITB telah melakukan survei GPS. Hasilnya menunjukkan GPS telah mendeteksi adanya penurunan tanah pada level desimeter dalam jangka waktu kurang dari satu bulan di sekitar Porong Sidoarjo.

Untuk terus memonitor land subsidence yang masih terus terjadi di Porong Sidoarjo, maka PT Lapindo Brantas dan PT LAPI ITB yang diwakili oleh Kelompok Keilmuan Geodesi dan Kelompok Keilmuan Geologi telah sepakat untuk melanjutkan kerjasama dalam monitoring land subsidence yang sebelumnya dlakukan PT Lapindo Brantas  bersama dengan IAG dan Kelompok Keahlian FTSL ITB. Kesepakatan utama adalah mengadakan pengukuran GPS secara episodik dan kontinyu di sekitar daerah Porong Sidoarjo. Realisasinya, untuk Pengamatan episodik GPS dilakukan per bulan, dan jumlah titik yang diukur adalah sekitar sepuluh hingga tujuh belas titik. Total pengamatan episodik GPS yang telah dilakukan adalah dari bulan Juni hingga Oktober 2006 (5 kala). Sementara itu GPS kontinyu mulai dipasang di Porong dari akhir bulan september sampai dengan sekarang.

Hasil dari penelitian selengkapnya adalah GPS telah mendeteksi land subsidence dengan nilai penurunan pada level desimeter dalam jangka waktu kurang dari satu bulan dan pada level sub meter dalam jangka waktu kurang dari dua bulan. (IAG-Geodesy research group, 2006 ; PT LAPI, 2006). kemudian dalam jangka waktu 5 bulan, penurunan tanah yang terjadi di Porong Sidoarjo sudah dalam level meter. Sementara itu hasil pemantauan secara kontinyu menggunakan GPS memperlihatkan land subsidence yang masih terus berlangsung sampai saat ini.

Hasil penurunan tanah yang terjadi di Porong menunjukkan kecepatan penurunan  yang cukup besar dan juga dengan waktu yang relatif lebih cepat di bandingkan dengan kecepatan penurunan yang biasanya di daerah lain ( daerah Bandung dan Jakarta mengalami penurunan tanah dengan kecepatan 10 cm/tahun).

Berita Terkait