Earthquake Geodesy

Pada awal tahun 90-an, mulai dikenal istilah €œEarthquake Geodesy€, yang dapat dipaparkan secara umum sebagai kontribusi data geodetik dalam bidang kajian gempa bumi.  Interdisiplin ilmu bagi bidang seismologi ini dirasakan pengaruhnya cukup positif dalam upaya untuk lebih memahami mekanisme dari fenomena kejadian gempa bumi.  Data geodetik (contoh data GPS dan InSAR) dapat mendokumentasikan kejadian-kejadian deformasi dalam sebuah aktifitas gempa bumi seperti tahapan akumulasi deformasi sebelum terjadi gempa bumi (interseismic deformation), tahapan terjadinya ketidakmampuan kerak bumi dalam merespon akumulasi energi deformasi kemudian menghasilkan gempa bumi (co-seimic deformation), tahapan deformasi ketika release energy pasca gempa bumi (post-seismic) dan tahapan lainnya.  Hasil dokumentasi yang diberikan data geodetik tersebut telah memberikan kontribusi yang besar bagi pemahaman secara fisik dari kejadian alam yang berkaitan dengan masalah gempa bumi tersebut (Hudnut, 1994).

Di bawah ini dapat kita dapat melihat contoh model deformasi interseismic (gambar satu dan dua dari urutan kiri ke kanan) dan coseismic (gambar 3,4) dan postseismic (gambar 5), yang masing-masing courtesy dari site Panga.cw.edu, geosat.cc.bas.bg, llnl.gov, vkgahalaut, dan GFZ-Posdam:

interseismicpangacwedu.jpg  interseismicgeosatccbasbg.jpg    coseismicllnlgov.jpg  coseismic_smtravkgahalaut.jpg   image004gfz-posdam.gif

Dengan kehandalan data GPS disertai dengan teknologi analisis data yang kian maju, serta makin banyak dibangunnya jaring GPS di daerah potensial gempa bumi, maka kontribusi data geodetik kini telah menuju pada pemahaman terhadap sumber (source) penyebab gempa bumi, dan penambahan kualitas evaluasi mitigasi bencana alam gempa bumi.  Data geodetik ini juga memberikan nilai tambah bagi pemahaman zona seismik tertentu, dimana pada zona tersebut slip rate secara geologi sulit untuk ditentukan, seperti pada kasus contoh sesar yang tidak beraturan, dan sesar yang ada tidak mencapai permukaan.  Lebih jauh lagi data geodetik dapat memberikan dokumentasi nilai pergeseran permukaan yang informasinya berguna bagi teknik sipil dan komunitas surveying dalam upaya rehabilitasi infrasturktur yang telah rusak akibat suatu gempa bumi.

Cukup banyak contoh data earthquake geodesy terdokumentasi dengan baik yang berkaitan dengan masalah gempa bumi.  Sebagai contoh pada saat sekuen dari gempa Landers yang kemudian berakhir dengan gempa utama berkekuatan 7.3 Mw (Sieh dkk, 1993; Special Issue of Bull. Seismol. Soc. Amer., 1994 dalam Segall.dkk, 1997), data Geodolite, trilaterasi dan data Global Positioning System (GPS) dari jaring pengamatan kontinyu (PGGA) terekam dengan baik, dan berguna sekali dalam analisis mekanisme gempa bumi yang terjadi.  Selain itu hasil dokumentasi gempa bumi oleh teknik Syntetic Aperture Radar (InSAR) juga terdokumentasi dengan baik pada saat terjadinya gempa bumi Landers ini.

Berita Terkait