Pemantauan deformasi gunungapi Krakatau 2006

Gunungapi Krakatau merupakan salah satu gunungapi yang berbahaya yang ada di dunia. Letusan dasyat yang terjadi tahun 1883 telah menimbulkan gelombang tsunami, kemudian menewaskan puluhan ribu jiwa.  Selain itu debu letusan telah menutupi sebagian besar wilayah di dunia dan mengganggu kesetimbangan iklim global pada waktu itu.  Gunungapi Krakatau terletak di selat Sunda, diapit pulau Sumatera dan pulau Jawa, Indonesia. Keunikan dari gunungapi Krakatau ini yaitu keberadaan gunung ini yang terletak di laut dan sebagian puncaknya yang muncul ke permukaan.

krakatau001.JPG  krakatau002.JPG krakatau003.JPG krakatau004.JPG

Melihat begitu besarnya bencana yang pernah ditimbulkan oleh gunung Krakatau ini, dan terdapatnya kemungkinan potensi bencana di masa datang, sesuai gejala alam, maka pemantauan potensi dan mitigasi bencana alam letusan gunungapi Krakatau harus dilakukan dengan sebaik mungkin, dengan memanfaatkan metode dan teknologi yang ada sekarang ini.

Pemantauan aktivitas vulkanis gunungapi Krakatau

Metode yang saat ini telah digunakan untuk pemantauan gunung api Krakatau diantaranya metode metode seismik, metode pengukuran gaya berat, dan metode pemantauan deformasi dengan menggunakan GPS. Tim pemantau utama adalah Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (DVMBG), yang bekerjasama dengan berbagai institusi baik nasional maupun internasional, diantaranya dengan KK Geodesi FTSL ITB.

Untuk memantau aktivitas seismik di Gunung Krakatau, DVMBG diantaranya bekerja sama dengan GFZ Jerman memasang seismograf di beberapa tempat di tubuh gunungapi Krakatau, juga dengan peneliti dari Italia.  Metode seismik yang menggunakan sensor seismometer ini pada dasarnya digunakan untuk mengevaluasi aktivitas yang terjadi di dalam gunung api.

Disamping metode seismik, Pihak DVMBG bekerjasama dengan institusi lain seperti KK Geodesi ITB telah memanfaatkan metode deformasi yaitu dengan menggunakan teknologi GPS, untuk memantau aktivitas gunungapi. Metode ini dianggap punya potensi yang sangat besar untuk berkontribusi dalam pemantauan aktivitas gunung api. Metode ini pada dasarnya ingin mendapatkan pola dan kecepatan dari deformasi permukaan gunung api, baik dalam arah horisontal maupun vertikal.

Pemantauan aktivitas vulkanis gunungapi Krakatau menggunakan GPS

Pemantauan deformasi menggunakan teknologi GPS di gunungapi Krakatau mulai dilakukan oleh DVMBG bekerjasama dengan KK Geodesi pada bulan agustus 2006.  Pengambilan data dilakukan sekitar 2 hari. Ada beberapa titik pantau deformasi yang diletakan disekitar tubuh gunungapi, kemudian 1 titik kontrol diletakan di pos pengamatan gunung Krakatau di Anyer.

Di bawah ini adalah gambar-gambar dokumentasi tim yang melakukan survey lapangan. Untuk mencapai gunung Krakatau harus menggunakan perahu menyebrangi selat Sunda. Sementara itu untuk mencapai titik Pantau yang terletak di puncak gunung kita harus berjalan kaki dengan medan menanjak membawa peralatan survey selama kurang lebih 45 menit

krakatau005.JPG krakatau006.JPG krakatau007.JPG krakatau008.JPG

Di bawah ini adalah gambar-gambar dokumentasi survey lapangan pengambilan data GPS di titik-titk pantau deformasi gunung Guntur. Tim survey melibatkan mahasiswa geodesi yang tergabung dalam Ikatan Mahasiwa Geodesi ITB .

krakatau009.JPG krakatau010.JPG krakatau011.JPG krakatau012.JPG krakatau013.JPG krakatau014.jpg

Pemantauan ground deformation gunung api dengan menggunakan GPS pada prinsipnya dapat dilakukan secara episodik atau kontinyu. Dalam pengamatan secara episodik, koordinat dari beberapa titik GPS yang dipasang pada gunung api, ditentukan secara teliti menggunakan metode survey GPS. Koordinat titik-titik ini ditentukan dalam selang periode tertentu secara berkala dalam selang waktu tertentu, dan dengan menganalisa perbedaan koordinat yang dihasilkan untuk setiap periode, maka karakteristik deformasi dari gunung api dapat ditentukan dan dianalisa.

Pemantauan deformasi secara kontinyu secara prinsip sama dengan pemantauan deformasi secara episodik, yang membedakannya hanya aspek operasional dari pemantauan. Dalam pemantauan deformasi  secara kontinyu koordinat dari titik-titik GPS pada gunung api ditentukan secara real€“time dan terus menerus dengan sistem yang disusun secara otomatis. Agar metode ini dapat dilakukan maka diperlukan komunikasi data antara titik-titik GPS pada gunung api dan stasiun pengamat.

Data GPS yang diambil untuk keperluan deformasi ini yaitu data phase dan data code GPS dari tipe Geodetik receiver GPS dual frekuensi (L1/L2), dengan lama pengamatan sekitar 10 sampai 24 jam. Desain jaring pengamatan yang digunakan yaitu desain jaring radial, dengan mengikatkan titik-titik pantau terhadap satu titik ikat (referensi) yang telah ditentukan di luar asumsi daerah yang kemungkinan mengalami deformasi.

Setelah pengambilan data pada bulan agustus 2006, rencananya akan dilakukan kembali pengambilan data untuk kala berikutnya. Data-data  yang dikumpulkan tiap survey selanjutnya akan diproses dan digabungkan dengan hasil pengolahan data survey satu dengan yang lainnya untuk di analisis karakteristik deformasi yang terjadi pada  gunungapi  yang diamati. Strategi pengamatan dan pengolahan data yang optimal merupakan salah satu sasaran utama penelitian, untuk memperoleh hasil yang paling baik.

Berita Terkait